JADI TOUR GUIDE ( CERITANYA ) DI SINGAPORE

Standar

PENGALAMAN  INDAH  DENGAN STAF

IMG_1317Perjalanan saya  ke Singapura kali ini dalam rangka mengantar staf jalan – jalan, sebagai bonus akhir tahun. Kebetulan yang bisa ikut ada 7 orang,  Bu Dian, Bu Nani, Bu Ayu, Dimas, Ocha, Momo, Koswara, sementara 3 orang lagi terpaksa tidak bisa ikut, Bu Isma sakit, Bisma  mau ujian S2, dan Bu Lilis pas ada acara keluarga yang harus ikut.  Baru Bu Dian dan Bu Ayu yang pernah ke Singapura sekali, itupun dah lama, sisanya belum pernah sama sekali ke luar negeri.  Berhubung ini perjalanan pemula buat mereka, saya pun coba buat  jadwal perjalanan yang sesuai buat mereka, sekalian napak tilas plus jadi tour guide.

Jumat, 7 Februari 2014. Kami berangkat dari bandara Husein Sastranegara dengan Air Asia, jam 6.30. Sampai Changi Airport, sekira jam 9.00 waktu setempat ( waktu Singapore lebih cepat 1 jam ). Tiba di Terminal 1, langsung menuju Imigrasi pakai  train khusus bandara. Sedikit lama di imigrasi, karena Momo kurang lengkap mengisi data’ immigration card’ nya, ada – ada saja. Beres ambil bagasi, kami langsung menuju Stasiun MRT Changi, beli kartu MRT ( EZ Link )  dan naik MRT ke China Town. Untuk MRT dari St. Changi, nanti pas di St.Tanah Merah harus ganti kereta yang ke arah Joo Koon ( line HIjau ), turun di Outram Park ganti line kereta ( line Ungu ) yang ke Punggol ( turun di ChinaTown ). Untuk naik MRT cukup berbekal peta MRT, sebagai acuan utama, hal ini yang saya informasikan ke rombongan. Kami menginap di daerah ChinaTown, di Santa Grand Hotel, yang sengaja saya pilih karena IMG_1320sangat dekat dengan MRT China Town, begitu keluar dari pintu area MRT, lurus terus belok kiri, lebih kurang 200 meter sudah sampai hotel. Buat yang baru pertama ke Singapore, hotel ini cocok sekali, karena berada di daerah yang selalu ramai, di sekitar pusat belanja, toko – toko,  souvenir , restoran, café,  dan keramaian China Town, jadi kalau mau pulang jalan – jalan jam 11 malam pun masih cukup ramai.  Rate Room Santa Grand Hotel, untuk family room ( bisa bertiga )  sekitar 220 SGD per dua malam ( 110 SGD per malam ) dan yang standar room 118 per dua malam. Kamarnya memang kecil ( model Tune Hotel ),  lengkap dengan AC, kamir mandi, TV, Lemari, Air panas plus teh atau coffe, perlengkapan mandi, tapi  no Breakfast. Lumayan bersih, cukup lah buat numpang tidur. Read the rest of this entry

AKHIR PEKAN DI PEKANBARU

Standar

Jumat, 24  Januari 2014

IMG_1103Main ke Pekanbaru sebenarnya buah iseng, karena pas  hunting tiket pesawat ke Singapore beberapa bulan ke belakang, kebetulan Air Asia buka rute baru  Bandung  Pekanbaru, dengan harga promosi 200 ribu pergi pulang.  Apa salahnya mencoba rute baru, akhirnya jadilah kami ber lima sekeluarga berangkat ke Pekanbaru.  Persoalan muncul, kata teman di Pekanbaru  wisata nya biasa biasa saja,  bahkan kami ( keluarga teman ) suka main ke Bukittingi untuk pesiar.  Kami pun sepakat, untuk menjajal  rute Pekanbaru – Bukittinggi.  Pesawat take off dari bandara Husein Sastranegara  jam 5.40 , tiba di bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, jam 7.30 ( waktu setempat),  perhitungan saya waktu tempuh sekira 1,5 jam  ( dari jam tangan ).  Mobil innova  yang kami sewa dan sopirnya  baru tiba pula di bandara. Berhubung lapar, kami langsung mencari sarapan,  menu soto kami pilih, karena kita penggemar soto, dan selalu ingin mencicipi soto khas di tiap daerah.  Dapat info, ada soto enak dekat bandara, yakni Soto Bude ‘Kirman’, di simpang tiga, Jl KH Nasution 10.  Soto nya memang enak,  model soto padang tapi juga mirip soto banyumas. Sudah kenyang, pas jam 8.30, kami langsung menuju Bukittinggi, kata pak Eri, sopir kami, lama perjalanan  kurang lebih 5 jam, berhubung hari jumat, jalan biasanya lowong. Ini perjalanan darat kami yang pertama kali di wilayah Sumatera,  benar saja, jalan sepi hanya berpapasan dengan beberapa kendaraan, pemandangan kanan kiri  masih banyak lahan kosong, kecuali di wilayah Pekanbaru yang sudah berkembang pesat, kanan kiri jalan raya sudah mulai penuh bangunan pertokoan dan beberapa perumahan. Lepas kota Pekanbaru, apalagi memasuki perbatasan Riau dan Sumatera Barat, pemandangan adalah gunung, lembah, pepohonan nan hijau.  Jalan yang  tadinya lurus hampir jarang belokan, memasuki perbatasan mulai berkelok, dan menanjak.  Sebenarnya ada beberapa obyek wisata yang bisa  dikunjungi sepanjang rute Pekanbaru Bukittinggi, yaitu Candi Muara Takus, Kelok Sembilan, Lembah Harau, Kantor Bupati Payakumbuh,  namun karena terbatas waktu, kami hanya sekedar lewat saja.  Di wilayah Sumbar arah Bukittinggi,  kami melihat  kawasan hutannya masih terjaga dengan baik, panorama indah pegunungan Bukit Barisan tampak ijo royo royo.  Namun sayang, pas lihat Tugu Perbatasan, kok burem.  Tugu yang secara desain dan motif hiasan bagus, terlihat tampak kusam  tampilan dan warnanya, sepertinya  kurang terawat, padahal  biasanya warna dan hiasan  khas Sumatera  ( Padang, Riau ) begitu kontras, terang, dan penuh warna. Kami sempat tertidur, untung sudah pesan ke pak Eri, kalau sampai di Kelok Sembilan tolong dibangunkan.  Kami berhenti sebentar di Kelok Sembilan, berfoto ria dengan latar belakang Jembatan Kelok Sembilan yang baru dan tampak IMG_1116megah.  Kata Pak Eri untuk melihat dan melintas jalan lama kelok Sembilan ( yang terkenal kelok kelok nya ) baru bisa saat  nanti pulang , karena dengan dibangunnya jembatan yang baru (untuk mengatasi kemacetan, sempitnya jalan, dan keselamatan  pengendara ) maka  perjalanan berkelok disulap  menjadi seolah olah biasa saja, tanpa belokan dan  tanjakan atau turunan tajam.  Jam 14.00, kami mampir di rumah makan Pondok Baselo, Jalan Raya Bukittinggi, maklum  perut sudah nagih minta diisi. Anak anak sampai terbelalak melihat hidangan masakan  kapau yang disuguhkan di meja, mak…..banyak sekali jenisnya, banyak yang  belum kami temui di rumah makan padang di Bandung.  Ternyata dendeng bakar cabai hijau dan gulai ayamnya sungguh mak nyos,  rasanya begitu mantap, lebih nendang bila dibandingkan masakan padang di Bandung.  Ini baru makan kapau yang bener.  Setelah sholat, perjalanan pun berlanjut, kota Bukittinngi sudah dekat  sekitar setengah jam lagi kata Pak Eri. Read the rest of this entry

TEMPAT MAKAN DAN KULINER KHAS PEKANBARU

Standar

INFO KULINER TRADISIONAL dan TEMPAT MAKAN DI PEKANBARU

( maaf sebagian ambil dari berbagai sumber )

 

Ada berbagai macam kuliner yang khas di Pekanbaru, serta banyak tempat makan yang menyediakan makanan khas Pekanbaru, diantaranya yaitu :

 

  1. Gulai Ikan Patin

Kuliner ini merupakan kuliner yang wajib Anda coba ketika datang ke Pekanbaru.  Masakan dengan bahan utama ikan Patin ini banyak dicari wisatawan yang datang ke kota Pekanbaru. Menu ini sangat cocok dimakan saat masih hangat.  Warung-warung makan yang menyajikan gulai Patin ini dapat ditemui di Kota Pekanbaru pada siang hari pukul 11.00-14.00 dan malam hari dari pukul 19.00 sampai pukul 21.00. Rumah makan yang terkenal meyediakan menu ini adalah RM. Pondok Patin HM. Yunus ( Jl. KH Nasution 1, Simpang Tiga ) dan Pondok Gurih ( Jalan Jendral Sudirman 202 )

 

  1. Ikan Baung

Ikan Baung adalah jenis ikan air tawar yang banyak diternakkan di Pekanbaru. Tekstur daging ikan yang padat namun lembut terasa sangat pas dipadukan dengan bumbu asam pedas yang menggugah selera. Rasa gurih, pedas, dan asam menjadi satu masakan yang lezat yang harus dicoba. Beberapa rumah makan khas melayu menyediakan menu ini, namun bila ingin yang pasti ada, coba di RM. Pondok Gurih, atau Warung Mak Cuik  yang berlokasi di Pelabuhan Caltex Lama, Ujung Jalan Sembilang, Rumbai. Warung dengan bangunan sederhana ini merupakan tsalah satu tempat tujuan wisata kuliner terkenal di Pekanbaru ( tapi datangnya  tidak boleh terlalu siang, suka habis ), atau di Pondok Asam Pedas Baung ( depan rumah sakit Awal Bross )

 

  1. Sate Ikan Sinapelan

Sate dengan bahan utama ikan Patin ini merupakan kuliner khas Pekanbaru yang sangat disayangkan jika terlewatkan. Sesuai namanya, sate ini berasal dari daerah sinapelan ( kali ya ).

 

  1.  Roti Jala

Roti Jala ialah roti yang tidak pada umumnya. Ciri khas roti ini ialah jika pada umumnya roti berisi cokelat, pisang, susu, atau keju. Maka roti jala merupakan roti dengan kuah kari kambing dan acar nanas. Makanan ini bisa ditemui di beberapa rumah makan khas melayu.

 

5. Kedai Kopi Teng

Namanya memang kedai kopi, tetapi jangan salah, tempat ini menyediakan berbagai menu makanan yang lezat, mulai dari menu sederhana seperti roti bakar, roti canai, mie keeling.  hingga makanan berat. Harga yang ditawarkan di kedai ini sangat terjangkau. Misalnya, satu porsi mie keeling hanya dihargai Rp 12 ribu saja. Kedai ini ramai pada saat jam sarapan. Kabarnya para pejabat di Riau juga sering menyambangi kedai ini. Lokasi nya di Pasar Bawah Sinapelan.

 

6. Sate Padeh

Sate ini mirip sate (satai) padang biasa. Namun  yang ini lebih pedas. Kuahnya saja sampai berwarna oranye khas cabai rawit. Lokasinya di Jalan Delima, Pekanbaru. Katanya, saking larisnya, sate ini tidak bakal ‘masih tersedia’ jika Anda datang terlalu malam. Jadi sebaiknya ke tempat ini sore hari. Harganya sekitar Rp 10 ribu saja.

 

 7. Pancake Durian dan Lempuk Durian

Makanan ini menjadi salah satu oleh-oleh paling populer dari Pekanbaru. Cocok untuk dijadikan oleh-oleh keluarga atau teman kantor. Salah satu tempat yang paling terkenal adalah Leola Pancake Durian. Sebenarnya makanan khas ini sangat mudah ditemui di Pekanbaru. Anda bisa menemukannya hampir di semua pusat oleh-oleh atau kafe-kafe yang ada di kota itu.

Lempuk Durian adalah salah satu Jenis Makanan Khas dari Riau yang terbuat dari Durian, lempuk ini berbentuk seperti dodol. Selain di Riau,lempuk juga dapat dijumpai di daerah lain di Sumatera. Siapa yang tak kenal dengan lempuk durian, “Makanan Khas Riau” ini berasal dari Kabupaten Bengkalis, bahkan lempuk sudai menjadi ikon Bengkalis, jika kita berkunjung ke Bengkalis kurang lengkapnya jikanya tidak membeli buah tangan Lempuk Durian. Lempuk Durian banyak dijual di Pasar Bawah, dan pusat oleh oleh,dengan bebagai varian kualitas dan harga.

 

8. Durian Pekanbaru

Durian Pekanbaru menjadi salah satu kuliner yang patut dicoba di Kota Pekanbaru. Durian di daerah ini ukurannya tidak terlalu besar tetapi rasanya bersaing dengan durian monthong. Yang unik jika Anda mencicipi durian Pekanbaru akan disajikan bersama pulut atau ketan putih dengan taburan kelapa parut yang dapat menambah kelezatan dari durian Pekanbaru.

 

9. Bolu Kemojo

Bolu Kemojo adalah makanan khas Pekanbaru, yang dipopulerkan kembali oleh ibu Dinawati yaitu pada tahun 1998. Kue ini dapat diperoleh di tiap toko oleh- oleh.

 

11. Asidah

Kue ini namanya Asidah, teksturnya lembut dan rasanya manis perpaduan rempah spt cengkeh, kayu manis dan daun pandan. yg anehnya kue ini dimakan pake bawang goreng. kue ini bisa dibentuk sesuka hati. Kue ini sudah jarang diperoleh, bahkan di beberapa toko oleh – oleh tidak ada yang menjualnya.

 

12. Kue Bangkit

Diberi nama kue bangkit karena ukuran dari kue ini setelah matang dan dikeluarkan dari oven akan berukuran dua kali lipat dari ukuran adonan semula. Warna kue bangkit ini putih kekuningan dan kadang dipercantik dengan diberi noktah berwarna merah di atasnya. Tekstur kue bangkit yang sangat halus dan gampang remuk. Kue bangkit akan lumer di dalam mulut dan mempunyai rasa yang renyah ketika dikunyah. Rasanya yang manis ini menjadi daya tarik bagi anak-anak. Mudah ditemukan di tiap toko oleh oleh.

 

13. Cencaluk

Cencaluk ialah sejenis lauk dalam hidangan tradisional melayu. makanan ini dibuat dari udang halus, cencaluk mengandungi kandungan protein yang tinggi. Saya waktu ke Pekanbaru, sulit menemukan makanan ini. Barangkali ada yang tahu, dimana bisa memperoleh cencaluk ini ?

 

14. Ikan Salai

Ikan Salai adalah ikan basah yang masih segar lalu dikeringkan melalui proses pengasapan. Ikan Salai merupakan salah satu menu makanan yang cukup terkenal terutama bagi masyarakat Riau  yang tinggal di sepanjang sungai-sungai besar yang ada di Riau , salah satunya di Kabupaten Pelalawan. Saya belum penah mencobanya, mungkin nanti kalau ke Pekanbaru lagi.

From Bandung to BROMO -1 (Mampir Madura)

Standar

Hari 1. Mampir Madura  (  antara Bebek, Batik, dan Ramuan Herbal )

Jumat. 18 Oktober 2013.  Pagi itu kami berkumpul di bandara Husein Sastranegara, Bandung untuk memulai perjalanan ke Bromo, agenda yang telah cukup lama dinantikan. Rencananya sebelum ke Bromo kami akan ke Madura, sorenya ke Bromo, dan esoknya berwisata di Batu Malang. Rombongan kali ini didominasi oleh ibu ibu, maklum teman teman istri. Total, plus keluargaku ada 19 orang. Pesawat Air Asia takeoff jam 8.10 , tiba di bandara Juanda Surabaya jam 9.15 ( lama perjalanan 1 jam 05 menit ). Mengingat jumlah rombongan cukup banyak, kami sepakat sewa operator tur lokal di Malang untuk mengantar kami ke Bromo dan Malang.  Tujuan pertama adalah ke Madura, soalnya masih pagi kalau mau langsung ke Bromo, lagi pula ibu ibu request khusus beli batik Madura IMG_0063sekalian lihat jembatan Suramadu. Jalan macet dan udara panas kota Surabaya sangat terasa hari itu. Read the rest of this entry

From Bandung to BROMO – 3 (sesi Batu Malang)

Standar

Wisata Batu Malang  ( Taman Lampion di BNS yang cantik )

Masih Sabtu,19 Oktober 2013. Pasca makan siang di Batu Malang, rombongan  menuju kawasan wisata  Coban Rondo ( Air Terjun Randa/Janda ).  Lokasi wisata  ini berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari Kota Batu Malang hanya ditempuh sekitar 30 menit pakai mobil. IMG_0485

Sekedar info : Coban Rondo terletak pada ketinggian 1135 m di atas permukaan laut. Air terjun ini memiliki ketinggian 84 meter dengan debit air berkisar antara 90 liter per detik pada musim kemarau sampai dengan 150 liter per detik pada musim penghujan. Coban Rondo sebenarnya merupakan bagian dari kelompok air terjun bertingkat (dimulai dengan air terjun kembar bernama Coban Manten, yang bergabung menjadi satu dinamakan Coban Dudo, dan kemudian mengalir ke bawah dengan nama Coban Rondo). Legenda tentang Air Terjun ini, ( kenapa dinamakan air terjun janda, dapat dibaca pada papan info masuk ke lokasi air terjun, sempatkan membaca kalau kesini lho ) Read the rest of this entry

From Bandung to BROMO – 2 (Amazing Bromo)

Standar

Hari 2.  Menuju Bromo ( Amazing Bromo )

Jam 22.00 kami sampai di hotel, di lereng Bromo, tepatnya desa Sukapura, Kec IMG_0123 IMG_0216 IMG_0249Sukapura. Kab.Probolinggo. Di wilayah ini sampai dengan desa Ngadisari, dekat pintu gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, bertebaran hotel, villa, dan homestay mulai harga sekira 120 ribu/malam hingga 650 ribu/malam. Ini beberapa hotel yang sempat saya catat atau terlihat saat menuju gerbang Taman Nasional : Café lava,Cemara Indah, Lava View Lodge, Hotel Bromo Permai, Java Banana Bromo, Grand Bromo Hotel, dan banyak lagi.  Setelah mandi, langsung istirahat tidur untuk persiapan bangun jam 2.30 menuju Pananjakan Bromo melihat sunrise.  Oh ya, fasilitas hotel di Bromo memang rata rata minim ( kata guide tour), contohnya harga hotel bintang 3 tapi fasilitas melati ( non AC,cuma ada kamar agak luas 2 bed, kamar mandi plus air panas buat mandi, TV kecil, 4 botol aqua, dan sarapan pagi), seperti yang saya tempati.

Sabtu, 19 Oktober 2013. Alarm jam 2.30 berdering, Saya, istri, dan Aldin si bungsu  terbangun. Ganti baju, baju mendaki gunung ( jaket, kupluk, syal, sarung tangan, sepatu ). Ternyata rombongan telah lebih siap di luar. Setelah pembagian senter, kami naik mini bus,diantar menuju pool Jeep di desa Ngadisari. Read the rest of this entry

BABARENGAN TO YOGYA

Standar

Sebenarnya saya enggan ikut wisata ke Yogya dari kantor, namun karena teman teman maksa jadi pimpinan rombongan merangkap guide, akhirnya dengan legowo saya pun ikut, sekalian pulang kampung. Rombongan berjumlah 30 orang, lumayan heboh. Dari Bandung, kami berangkat Kamis malam ( 28 februari 2013), menggunakan kereta api Lodaya malam jam 20.00. Otomatis kami berada di satu gerbong, rame dan heboh sepanjang jalan dah pasti, kasian penumpang lain. Terdiam ketika semua pada tertidur. Tiba di Yogya, jam 04.00 ( waktu Yogya, 1 maret 2013 pas memperingati SO 1 Maret ). Bus BIMO yang kami sewa telah stand by di Stasiun Tugu, rombongan dibawa menuju Rumah Makan Paradise, di Jalan Raya Wates Km. 5 ( 15 menit dari St.Tugu ) untuk mandi, sholat subuh, dan sarapan pagi. Tempat mandi di restoran ini memang banyak, sepertinya memang khusus untuk transit bus wisata dari wilayah Barat( Bandung, Jakarta ) ke Yogya.
IMG_1481Selesai sarapan, kami menuju Kotagede, sebuah tempat bersejarah, saksi berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Namun kami tiba terlalu pagi, beberapa pertokoan perak tempat kunjungan para wisatawan masih belum buka. Kotagede memang terkenal dengan kerajinan peraknya. Di sepanjang jalan berderet toko dan pengrajin perak, bangunan di kawasan ini banyak yang masih berupa bangunan kuno ( heritage ) namun terawat baik Read the rest of this entry