Jendela 1 : Air

Standar

AIR

Air, serta pemandangan alam nan elok  tampak di depan mata, ketika  kami  (dari TKPRD) menjejakkan kaki di kawasan Situ Cisanti,  di kaki Gunung Wayang.  Disinilah awal  sungai Citarum.  Beberapa mata air  mengalir tiada henti, begitu bening dan jernih, serta sangat menggoda untuk  dapat menyentuh bahkan merasakannya.  Segera, air pun mulai membasahi muka dan melewati kerongkongan yang mulai kering, terasa  begitu segar dan sejuk.  Sungguh nikmat.

Seakan belum puas, kami terus mengikuti aliran sumber air Citarum. Diiringi gemericik alunan air, kami menuju kampung Pejaten, yang berjarak 1 km dari Situ Cisanti.  Tertegun, kami melihat perubahan yang terjadi di depan mata.  Air Citarum yang tadinya begitu jernih, sekarang menjadi keruh berwarna hijau kecoklatan, tercampur dengan limbah domestik dan kotoran sapi. Ironis, karena perjalanan  air baru sekitar 1 km.  Heran, karena ternyata  sudah terjadi sangat lama. Sedih, melihat  rumah dan kandang sapi menjadi satu kehidupan sebuah kampung.

Ketika  memandang  sekali lagi  beningnya air  di botol ’aqua’ yang berisi air dari mata air Citarum, sudah terbayang, apa yang akan kami temui di daerah hilir sungai Citarum. Nuansa hitam pekat dan bau menyengat merupakan pemandangan  khas perjalanan di sepanjang hilir sungai Citarum. Namun, seburuk – buruknya kondisi sungai Citarum, ternyata toh masih bisa memberikan kegembiraan bagi sekelompok anak  laki-laki  untuk bermain air.  Itulah air.

Air sumber kehidupan, barangkali kita semua menyadarinya. Air merupakan bagian terbesar tubuh manusia ( 70%), dan dua per tiga bumi berupa air.  Namun dengan sadar pula, kita sering mensia – siakannya. Benak kita, mungkin dari pola pendidikan selama ini,  masih terjejali dengan informasi bahwa  air tidak akan habis karena hukum kekekalan masa, atau air adalah sumber daya alam terbaharui, atau air adalah milik bersama,  akibatnya  kita terjebak untuk selalu berpikiran pendek, bertindak sesaat, egois, menafikan keberadaan makhluk lain dan generasi mendatang yang tetap membutuhkan air.

Benar, jumlah air relatif tetap, yang berubah hanyalah jumlah yang dapat  dikonsumsi, di sisi lain konsumsi terhadap air semakin bertambah.  Sehingga persoalan saat ini adalah persoalan antara pasokan dan permintaan, mirip hukum pasar. Dari sudut ekosistem, kerusakan alam telah mempengaruhi  kenormalan siklus hidrologi, terutama perubahan iklim, dampak nyata adalah sulitnya memperkirakan kapan memperoleh air dalam  waktu, ruang, dan jumlah  yang  sesuai.

Jumlah air tawar di bumi hanya kurang lebih 0,7%, selebihnya adalah air asin atau air laut (97 %) dan air berbentuk es di kutub (2,3%).  Air tawar tersebut dapat ditemukan di  danau, sungai, lapisan akuifer dalam tanah, dan di atmosfer.  Menurut penelitian, setiap tahun ada sejumlah 517.000 km3 air terlibat dalam proses daur hidrologi.  Penguapan terbesar berasal dari air laut ( 88%), sisanya dari penguapan air daratan ( 12%). Dari uap yang naik membentuk awan, hanya 79% yang jatuh kembali sebagai hujan di laut, dan 21% nya sebagai hujan di daratan.  Perbedaan antara penguapan dan jumlah hujan yang jatuh ke daratan sekitar 9% atau 46.000 km3, dan inilah yang menjadi sumber air yang dimanfaatkan oleh manusia.

Saai ini, penggunaan air global  masih didominasi untuk pertanian (70%), industri (22%), dan 8% domestik.  Menurut prakiraan UNEP, pada tahun 2020 dunia masih membutuhkan tambahan air sekitar 17% dari yang tersedia sekarang untuk tetap menjaga berlangsungnya kehidupan di bumi.   Sekitar 52-60% penduduk Indonesia belum mendapat akses air bersih dan sanitasi.  Pulau Jawa yang luasnya 7% dari  Indonesia memiliki potensi air tawar nasional sekitar 4,5%, Tapi  ditempati penduduk sekitar 65% jumlah penduduk Indonesia. Dan, lebih kurang   35  % penduduk Pulau Jawa berada di Jawa Barat.

Potensi air rata – rata di Jawa Barat diperkirakan mencapai 48 miliar m3 per tahun. Namun coba lihat  keberadaannya sepanjang tahun. Ketersediaan air melimpah pada musim penghujan, mencapai sekira 81,4 miliar m3 per tahun, namun pada musim kemarau hanya mencapai sekira 8,1 miliar m3 per tahun. Ketidakseimbangan ini  menyebabkan  rawan banjir pada musim hujan dan rawan kekurangan air pada musim kemarau. Padahal musim kemarau cenderung lebih panjang dari musim hujan. Itulah fenomena yang terjadi, dapat dibayangkan ancaman  bencana seperti apa yang akan selalu mengancam Jawa Barat.

Disisi lain, kebutuhan untuk domestik, industri, dan irigasi saat ini diperkirakan sebesar 17,5 miliar m3 per tahun. Dengan laju petumbuhan penduduk dan tingkat ekonomi  seperti sekarang, bila tidak dilakukan upaya pengelolaan sumber daya air secara baik,  besar kemungkinan Jawa Barat akan memasuki masa krisis air mulai tahun 2025.

Pencemaran air, sedimentasi, intrusi air laut, tapaknya menjadi faktor pengurang yang penting dalam upaya memperoleh air bersih saat ini.. Bila berpijak pada kondisi sekarang, rasanya sulit untuk membayangkan berapa besar dana dan waktu yang diperlukan bagi pemulihan kualitas dan kuantitas  sumber daya air.

Alam sesungguhnya mempunyai kekuatan dan mekanisme yang dahsyat  untuk  memperbaiki ekosistemnya. Contoh untuk air adalah siklus hidrologi. Memasuki musim penghujan, sekali – sekali rasakanlah nikmatnya kesegaran udara sehabis hujan. Udara bersih seketika karena  berbagai polutan  di udara  tercuci oleh air hujan. Coba bandingkan, berapa dana dan waktu untuk dapat memulihkan kualitas udara kota yang tercemar, bila seandainya tidak ada hujan. Keberadaan hutan dengan tutupan  yang baik, daerah – daerah resapan air,  sungai dengan kapasitas memadai, akan menjaga siklus hidrologi secara baik. Bandingkan,  berapa dana bila harus dilakukan hujan buatan  secara  terus menerus. Atau coba hitung, berapa belanja rumah tangga kita untuk air bersih  beberapa tahun terakhir ini, kondisi yang tidak ditemui waktu kita kecil.

Setetes air selalu bermakna. Bahkan ketika air berubah menjadi banjir atau bahkan menjadi gelombang tsunami, pasti mempunyai makna. Barangkali kita memandangnya sebagai bencana. Namun,  dari kacamata kepentingan alam  dan Sang Pencipta   mungkin berbeda. Cobalah untuk menjadikan air dan lingkungan menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekedar sebagai bahan baku kehidupan. No Water, No Future. (MEd)

Dimuat di Warta Bapeda Vol.11 No.4 / Oktober-Desember 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s