Jendela 2 : Creeping Disaster

Standar

CREEPING DISASTER

Inilah kisah sang katak. Pada suatu hari, sekelompok katak melompat-lompat menuju pinggir danau. Mereka  berhenti di atas  sebuah batu besar. Tatapan mata para katak tertuju pada  kubangan air yang jernih, tepat di tepi bawah batu. Tanpa dikomando, rombongan katak pun terjun ke kubangan air tersebut. Katak –  katak itu tidak sadar bahwa kubangan itu adalah sebuah panci besar  untuk  memasak air. Para pelancong yang berkemah di tepi danau, selalu memanfaatkan panci besar tersebut untuk membuat air panas. Keluarga katak pun makin asyik bermain air. Mereka tidak lagi memikirkan perubahan suhu air yang kian menghangat, bahkan kehangatan itu terasa mengasyikkan. Para katak bersama-sama menikmati suasana, mulai beradaptasi terhadap suhu air yang semakin meningkat terus menuju titik didihnya. Namun sang katak pun memiliki keterbatasan. Sang katak tidak berdaya ketika air mulai mendidih. Mereka masih tidak menyadarinya. Akhir kisah, para katak binasa  karena terebus air.

Kisah sang katak di atas, dari sudut pandang ilmu manajemen dan psikologi telah cukup banyak diulas.  Dalam kesempatan ini, kisah tersebut hanyalah untuk menggambarkan fenomena alam yang sedang terjadi saat ini, yakni semakin meningkatnya suhu permukaan bumi atau lebih dikenal sebagai  pemanasan global sebagai akibat perubahan iklim global dan dampak dari pembangunan. Para pakar mengkhawatirkan berbagai kemungkinan dampak yang akan terjadi, atau bahkan bencana yang akan timbul.  Dampak yang muncul  memang perlahan, kadang terabaikan, sehingga para pakar memasukkan pemanasan global yang tengah melanda bumi sebagai bentuk creeping  disaster atau slow disaster,  bencana yang menjalar atau merayap  karena kejadiannya dan dampaknya  terjadi pelan-pelan.

Mau penjelasan lugas tentang pemanasan global, tontonlah film dokumenter  pemenang Oscar ’ an Inconvenient Truth’, yang dibintangi oleh Al Gore mantan wakil presiden AS. Ada satu cuplikan adegan menarik di awal film. Di tengah terik panas, seorang anak kecil berlari-lari menuju toko mencari es krim. Setelah memperoleh es krim, si anak  merasa senang karena rasa haus dan panasnya akan terobati. Dengan santai si anak melangkah ke luar toko, namun baru beberapa langkah ketika ia ingin menikmati es krimnya, ternyata es krimnya telah leleh. Si anak pun hanya terbengong-bengong, lalu menangis.

Kekeringan merupakan contoh lain  creeping disaster yang sudah dikenal luas. Kekeringan sebenarnya adalah problem manajemen sumber daya air, dan bagian dari kondisi hidrologis yang kompleks, serta  terkait erat dengan isu perubahan iklim global, perubahan tata guna lahan, penurunan kuantitas dan kualitas sumber air, pola pemakaian dan pengaturan air, kerusakan sarana prasarana sumber daya air, termasuk juga kesalahan pola tanam atau pemilihan jenis komoditas pertanian. Kekeringan yang melanda Jawa Barat pada musim kemarau 2006  telah menimbulkan  kerugian hingga 625 miliar rupiah. Nilai kerugian baru dihitung dari sektor pertanian di  20 kabupaten dan 417 kecamatan. Beberapa wilayah  menderita kekeringan berat, seperti Kabupaten Indramayu, Cirebon, Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, dan Sumedang. Entah berapa trilyun rupiah kerugian yang harus diderita apabila berbagai sektor, seperti kebakaran hutan, hilangnya mata air, susutnya waduk dan sungai  juga diperhitungkan.

Terminologi creeping disaster dapat berkembang luas, karena kejadian kekeringan tidak berhenti sebatas sulit air, gagal panen, atau poso, namun dampaknya terus merangkak, antara lain kebakaran hutan dan ladang, munculnya kejadian rawan pangan di masyarakat daerah tertentu,  termasuk masalah kesehatan, dan masalah sosial  seperti pertikaian memperebutkan air irigasi. Berbagai pengamatan dan data menunjukkan bahwa persoalan kekeringan dari tahun ke tahun tidak pernah teratasi, bahkan luas area kekeringan cenderung semakin bertambah. Kekeringan bukanlah bencana akut atau mendadak seperti gempa bumi tektonik, paradigma ini barangkali yang harus diperbaiki. Kekeringan adalah salah satu bentuk creeping disaster ( bencana menjalar ) yang seharusnya dapat diprediksi, dilakukan mitigasi dan adaptasi.

Pertanyaannya, sudah sejauhmana kita melakukan prediksi, upaya mitigasi dan adaptasi terhadap  persoalan kekeringan  dalam kaitannya dengan bencana menjalar. Apakah  sudah ada pemetaan wilayah yang rawan kekeringan, sistem informasi perubahan dan prediksi iklim, sistem peringatan dini, peta zona agroekologi, penyuluhan dan sosialisasi perubahan iklim terhadap pola tanam bagi petani, penghijauan/reboisasi, pembangunan dan pengelolaan  irigasi, penataan daerah resapan air dan daerah aliran sungai, bagaimana strategi ketahanan pangan di wilayah kekeringan berat.

Perubahan  iklim, pemanasan, dan kekeringan hanyalah contoh-contoh bentuk creeping disaster yang telah dikenal dan dirasakan dampaknya. Bila diamati, banyak hal yang sesungguhnya dapat dikatakan creeping disaster dalam kehidupan kita. Contoh nyata misalnya, perkembangan penggunaan zat kimia golongan B3, khususnya zat aditif makanan, atau perkembangan penyebarluasan narkoba, berkembangnya berbagai virus atau kuman jenis baru, yang terakhir adalah virus Flu Kuda ( Equine Influenza ), atau juga kemiskinan, kekerasan, bahkan hingga ketidakadilan struktural, semuanya berpotensi menjadi bencana merayap.

Musim kering akan berlalu, musim hujan pun segera menyapa. Siklus ini selalu terjadi setiap tahun. Kekeringan, banjir, longsor, atau penyakit  bukanlah persoalan baru, dan seharusnya sudah dapat diprediksi, ada adaptasi serta upaya mitigasinya. Tentunya kita tidak ingin menjadi sang katak, yang hanya berdiam diri lalu tiba-tiba mati.  Wajib hukumnya bagi setiap manusia untuk melakukan ikhtiar. ( MED)

Dimuat di Warta  Bapeda 12 No.3/Juli-September 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s