Jendela 3 : Langkah – Langkah Hijau

Standar

LANGKAH – LANGKAH  HIJAU

Ada tiga topik berita lingkungan yang menarik di media massa dalam tiga pekan ini. Menarik, karena ada sisi perencanaannya, juga karena barangkali akan menggugah perhatian atau pandangan baru terhadap lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam kita.

Berita pertama. Beberapa pengembang perumahan di daerah Depok dan Bekasi laris manis memasarkan propertinya, setelah mengubah konsep perumahannya  menjadi perumahan hijau. Konsumen menyerbu, berdatangan membeli rumah. Padahal yang dilakukan oleh sebagian pengembang hanya memperbanyak  taman dan ruang terbuka hijau, bahkan ada pengembang yang hanya menghijaukan area dibawah tegangan tinggi yang melintasi propertinya.

Berita kedua.  Perkembangan nano teknologi mulai ditangkap oleh banyak negara besar, bahkan beberapa negara jiran, seperti China, Singapura dan Malaysia, turut berlomba mengembangkannya. Nano teknologi telah mampu mengubah segenggam pasir menjadi komponen utama telepon genggam dan komputer dengan nilai 1000 kali lipat. Apa jadinya sebuah negara yang hanya mampu mengekspor pasir (pasir besi ) dan mengimpor produk berteknologi tinggi itu.

Berita ketiga. Perubahan iklim yang semakin ekstrim akan semakin membuat petani semakin merana. Peneliti dari Stanford University dan Kepala Lab.Klimatologi IPB mengemukakan bahwa pertanian padi di Indonesia akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim, karena awal musim hujan di Jawa dan Bali akan sering mundur, juga musim hujan kian singkat.  Untuk itu, strategi budidaya tanaman harus dilakukan demi mengantisipasi perubahan iklim.

Ekonomi dan lingkungan, dua hal yang selama ini selalu berseberangan, kini  mulai menjadi semakin akrab.  Pada dasarnya, setiap orang akan membutuhkan lingkungan yang baik, aman, sehat, dan nyaman. Permintaan terhadap lingkungan yang baik semakin bertambah, disaat  polusi mulai semakin dirasakan dampaknya. Suasana nyaman dan asri didambakan untuk mengobati kepenatan, kejenuhan, dan berbagai tekanan kehidupan metropolitan. Posisi ini menjadikan nilai ekonomi lingkungan semakin tinggi. Melihat ini, barangkalai sudah selayaknya bila investasi untuk lingkungan idaman mulai disejajarkan dengan investasi pembangunan lainnya, seperti investasi untuk bidang infrastruktur, industri, jasa dan perdagangan.

Perkembangan iptek saat ini sangat membantu. Penerapan iptek secara tepat diyakini mampu memberi nilai tambah  amat berarti bagi lingkungan, tidak hanya dari sisi ekologi tapi juga dari sisi nilai ekonominya.  Sulit terbayangkan, bila harus mewujudkan tingkat produksi gabah dalam musim tanam yang semakin pendek dan cenderung tidak teratur, tanpa menggunakan bantuan teknologi. Aneh juga membayangkan, menggali pasir besi terus menerus dan menjualnya dengan harga murah,  padahal dengan sentuhan teknologi nilai tambah ekonomi pasir besi menjadi berlipat ganda, lingkungan dan cadangan sumber daya alam pun ikut terjaga.

Aubrey Wallace, dalam bukunya Green Means-Living Gently on the Planet, memberikan contoh nyata berbagai tindakan nyata kegiatan inovator bisnis di Amerika yang mampu menjaga kualitas lingkungannya. Mereka secara kreatif dan inovatif  memanfaatkan sumber daya lokal serta mengembangkan kearifan lokal  menjadi pundi – pundi bisnis yang amat menguntungkan, tanpa harus mengorbankan kualitas lingkungan. Stasiun televisi menayangkannya dalam acara Langkah – Langkah Hijau.

Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh Sally Fox. Fox mengembangkan pohon kapas serat berwarna  dan katun berwarna ( warna tanah, kuning,  hijau, putih ). Kapas berwarnanya kini dipakai untuk bahan kaos, topi, dan pakaian bagi produk  Levi Strauss dan Esprit.  Levi’s , Esprit, dan perusahaan lain yang menggunakan kapas berwarna merasa untung, karena tidak lagi perlu proses celup dan kelantang, sehingga tidak ada penambahan biaya untuk proses dan bahan kimia, dan yang penting tidak ada pencemaran. Produknya pun mempunyai kelebihan, karena tidak pudar, makin dicuci warnanya malah makin cerah. Kini, usaha Fox sudah bernilai jutaan dollar.

Kalau Amrik terlalu jauh, ada contoh yang dekat di Jawa Barat. Salah seorang penerima penghargaan Kalpataru tahun 2007, bapak Solihin GP, mantan Gubernur Jawa Barat,  bersama rekan – rekannya, mengembangkan pertanian padi organik  metode SRI ( System of Rice Intensification ). Dengan metode SRI, produktivitas padi bisa mencapai lebih dari 10 ton/hektare. Metode ini, menitikberatkan pemakaian pupuk kompos serta mengontrol kualitas tanah dan air. Keuntungannya, pemakaian air lebih sedikit. Kompos pun dapat mengurangi pemakaian pupuk  kimia, atau ramah lingkungan.

Langkah – langkah hijau sudah seharusnya diinformasikan dan dikomunikasikan lebih intensif  untuk memotivasi  para pelaku usaha di berbagai sektor.  Namun langkah hijau tidak sebatas untuk  orang yang berkecimpung di bidang ekonomi, siapapun bisa menerapkannya.  Bahkan, ada sebuah partai politik yang telah memproklamirkan diri menjadi partai hijau,  apakah sekedar tren atau benar mau menyuarakan langkah hijau ?

Economic Value Added ( Nilai tambah ekonomi )  awalnya adalah  konsep pengukuran kinerja keuangan yang dikemukakan oleh Stern Steward and Co. Konsep ini digunakan agar  tidak terkecoh  oleh kinerja perusahaan hanya dari sisi profit, karena profit atau laba  yang tinggi belum menjamin  terjadinya nilai tambah bagi perusahaan. Demikian pula,  Jawa Barat dengan keanekaragaman sumberdaya alamnya menjadi keunggulan tersendiri dibanding provinsi lainnya.  Tentunya kita tidak ingin terkecoh oleh keuntungan sesaat dari pemanfaatan sumber daya alam, yang sesungguhnya tidak memberikan nilai tambah bagi pembangunan Jawa Barat sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s