Jendela 4 : Kalpataru

Standar

KALPATARU

Akhir tahun selalu diwarnai dengan tayangan, tulisan, atau sajian kaleidoskop di berbagai media. Paling menonjol biasanya kaleidoskop politik, olahraga, dan selebritis. Mungkin baru dua tahun terakhir, beberapa media menampilkan khusus  kaleidoskop lingkungan. Barangkali kejadian bencana dan perubahan iklim global yang hangat dua tahun terakhir telah memaksa para insan pers  untuk mengingatkan kita semua terhadap  kondisi alam dan lingkungan hidup yang semakin tidak bersahabat.  Kilas balik peristiwa dalam kaleidoskop menyuguhkan rangkaian kejadian yang selayaknya patut kita renungkan. Masa lalu, sejarah, dan pengalaman silam merupakan guru yang terbaik.

Ada ungkapan, sejarah tidak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar daripadanya. Jas Merah kata Bung Karno, ‘ jangan sekali – kali melupakan sejarah’. Mungkin itulah nasehat yang mudah diingat.  Keinginan untuk mengenang sejarah pun muncul saat liburan akhir tahun di Yogya. Kebetulan banyak tempat-tempat bersejarah di kota ini, ada Kraton, Candi, Petilasan Diponegoro, Monjali – Monumen Jogja Kembali, Benteng Vrederburg, makam keluarga Cendana, dan banyak lagi.  Pelajaran penting dan menarik  mengenai  lingkungan sempat saya peroleh ketika mengunjungi komplek candi Prambanan.

Dari dekat, Candi Prambanan tampak menjulang tinggi. Kerumunan wisatawan memadati kaki candi, memandangi keindahan dan keanggunan  Candi Rara Jonggrang, salah satu candi terbesar di komplek  tersebut. Liburan panjang  membuat komplek Candi Prambanan terasa sempit oleh banyaknya pengunjung, sebagian besar  justru penasaran ingin melihat  dampak gempa besar yang melanda Bantul dan kota Yogyakarta  terhadap keutuhan candi.  Untung, kerusakan yang terjadi tidak terlalu parah,   upaya restorasi  juga dilakukan dengan cepat, sehingga  keutuhan candi sudah dapat dinikmati oleh tiap pengunjung.

Ada banyak hal menarik sesungguhnya apabila mengunjungi tempat bersejarah penting seperti halnya candi Prambanan, disamping mengagumi  masterpiece ( mahakarya ) peradaban saat itu dan  berfoto ria, ada beberapa nilai kehidupan serta  kearifan terhadap alam dan lingkungan terpahat di dinding – dinding candi. Terkadang si pemandu wisata  hanya bercerita mengenai sejarah asal muasal, kisah atau legenda yang melekat dengan candi. Sangat beruntung bila pengunjung memperoleh pemandu yang mampu menjelaskan tentang arti tiap gambar dan pahatan yang terukir di setiap  susunan batu.  Salah satu pahatan yang menarik perhatian saya adalah  gambar pohon kalpataru, karena sering saya lihat di logo surat undangan Kementerian Lingkungan Hidup.

Kalpataru, disebut juga kalpawrksa, kalpadruma, atau devataru, adalah nama pohon dalam mitos india, salah satu dari lima jenis pohon suci. Dalam agama Hindu, kalpataru dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian, dan keserasian lingkungan.  Konon, konsep Tri Hita Karana untuk pembangunan di Bali diambil dari relief kalpatura di candi Prambanan. Tri Hita  Karana  memadukan unsur Tuhan pencipta, manusia, dan alam untuk mencapai keselarasan dan keharmonisan. Kalpataru saat ini juga dipakai untuk nama penghargaan  bagi para  penyelamat dan pahlawan lingkungan. Intinya, kalpataru identik dengan perbaikan lingkungan hidup, sebuah icon atau simbol  bagi keserasian lingkungan.  Tanpa meneriakkan pembangunan berkelanjutan, provinsi Bali telah menerapkan nilai dan semangat kalpataru dalam membangun wilayahnya, sisi ekonomi, budaya, dan lingkungan berkembang maju bersama-sama dan selaras. In harmonia progressio.

Bagaimana  dengan Jawa Barat ?  Kilas balik pembangunan serta kaleidoskop lingkungan di media masa, khususnya di Pikiran Rakyat, telah memberikan gambaran yang cukup. Waktu terus berlalu dan tak akan pernah kembali, kecuali  bila kita mampu menembus lorong waktu menggunakan mesin waktu, bak di film time tunnel. Seandainya para perencana di  Bapeda dapat berpetualang ke masa silam, barangkali  banyak yang bisa dibandingkan dan dipelajari. Satu tahun sudah bencana tsunami terjadi,  apakah kehidupan para korban sudah normal, aktivitasnya, kampungnya, rumahnya, dan sarana prasarananya. Lima tahun sudah Renstra Jawa Barat berjalan, apakah  sasaran, target, atau indikator keberhasilannya telah tercapai.  Sepuluh tahun telah lewat,  masih banyak penilaian bahwa kondisi Jabar Selatan ternyata masih tertinggal. Tiga puluh tahun lebih terlampaui , ternyata pembangunan waduk Jatigede baru terwujud. Dua ratus tahun sudah, kita masih mengandalkan akses jalan utama  yang dibuat oleh Deandels. Adakah masterpiece hasil karya pembangunan Jawa Barat.

Demi waktu. Pak Kepala  Bapeda selalu menekankan arti pentingnya waktu. Pak Kepala Bidang PRLH juga menekankan untuk  selalu mengisi waktu, time filler not time killer. Refleksi akhir tahun, kilas balik ,  kaleidoskop, atau sejarah hanya sekedar mengingatkan agar kita tidak menjadi insan yang merugi, serta  tidak mengulangi kesalahan masa lalu.  Dari sisi kelestarian lingkungan, untung masih ada ‘kalpataru’, berarti masih ada semangat – semangat  untuk menjaga alam dan lingkungan ini. Semoga semangat tersebut terjaga dari waktu ke waktu. Sebelumnya mohon maaf apabila pada penghujung tahun ini tulisan Jendela agak berbeda, hanya karena ingin berbagi oleh-oleh liburan, semoga tetap bermanfaat. ( med )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s