Goa Pawon – Kawasan Geowisata Potensial, Diantara Kepungan Penambangan Batu kapur

Standar

Catatan Perjalanan ke Goa Pawon, 19 Desember 2007

Saya ikut rombongan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat meninjau lokasi Goa Pawon. Kawasan karst Goa Pawon diusulkan untuk dijadikan Kawasan Cagar Alam Geologi. Dalam Raperda Perlindungan Cagar Alam Geologi tertulis luas kawasan karst yang akan dikonservasi adalah meliputi zona inti di Pasir Pawondan Goa Pawon dan Zona Penyanggga di sekitarnya. Sebagian lahan kawasan adalah tanah milik Negara dan sebagian ternyata tanah milik masyarakat.

Jam 8.00 rombongan berangkat dari kantor Distamben Prov. Jabar. Rombongan terdiri dari berbagai perwakilan terkait dengan obyek Goa Pawon, ada dari Instansi Pemerintah ( Bapeda, BPLHD, Disbudpar, Diastamben, Kab Bandung Barat ), dari Perguruan Tinggi ( Unpad, ITB ), LSM Pecinta Lingkungan ( Wanadri, DPKLTS ), dan lembaga Penelitian ( Badan Geologi, PLG ). Sebagai pemandu rombongan adalah pak. Budi Brahmantyo – ITB, pakar geologi Goa Pawon dari KRCB ( kelompok Riset Cekungan Bandung ), ada juga tim KRCB lainnya yaitu Pak Sujatmiko, T. Bakhtiar dan Mbak Seruni .

Perjalanan dengan bus relative cepat, sekitar 1 jam, karena lewat tol Padaleunyi. Keluar di pintu tol Padalarang, menuju arah Cianjur, namun sebelum KM 24 pas di masjid jami Al Ikhlas desa Masigit, kita harus belok kanan. Ceritanya untuk etape pertama akan melihat Bukit Pasir pawon, satu – satunya kawasan karst kelas satu yang masih terjaga baik. Bukit pasir pawon terletak diantara Bukit Masigit dan Bukit Karang Penganten, ketinggiannya sekira 733 m dpl. Jadi kalau kita menuju Cianjur di km 24 sebelah kanan, akan terlihat beberapa gugusan bukit kapur / karst mulai dari Karang Penganten, Pasir Pawon, Bukit Masigit, Pasir Leuit, dan Bukit Bancana, sementara di sebelah kiri jalan adalah gugusan bukit Pabeasan dan Citatah. Dari masjid jami Al Ikhlas kita masih harus berjalan sekitar 1 km menuju Bukit pasir Pawon. Tiba di kaki pasir Pawon, pemandangan menakjubkan mulai terlihat. Batu – batuan terhampar dengan berbagai posisi menjulang membentuk pemandangan elok. Tiba di puncak pemandangan lebih indah lagi, batu – batuan yang terhampar seolah membentuk suatu taman batu dengan cita rasa seni tinggi, sehingga dinamakan Stone Garden. Bahkan ada bentuk batuan yang dinamakan baru Mesra, karena tampak seperti seseorang yang sedang duduk bersandar mesra di pasangannya. Menurut cerita pak Budi, batu – batu tersebut ( sejenis terumbu karang ) menunjukkan bukti sejarah bahwa Cekungan Bandung ini dulunya adalah lautan ( jaman Olegomiosen kata Pak Budi ). Pak MIko ( Sujatmiko ) sempat menunjukkan beberapa batuan yang mirip karang yang sering kita temui di pantai( bener euy….serupa ). Pemandangan lembah di bawah, ada sawah, perkampungan, dan jalan pun tak kalah indahnya. Kita bisa memandang Waduk Cirata, atau jalan tol Cipularang di kejauhan.

Namun satu hal yang membuat prihatin, keindahan alam di kawasan pasir Pawon sangat berlawanan dengan bukit – bukit sekitarnya. Buki Masigit dan Karang Penganten tampak begitu rusak oleh kegiatan penambangan batu kapur ( karst ). Bentuk bukit sudah growong ( terkelupas ), bahkan truk pengangkut batu kapur sudah bias naik ke atas bukit. Sementara di bawah bukit beberapa industry pengolahan batu kapur tampak berderet, mengepulkan asap hitam ke angkasa. Entah berapa beban polusi udara dan kerusakan lahan yang harus ditanggung kawasan Citatah-Padalarang ini. Lembah Cibukur dan kampung Cinyusuan yang tampak indah dari atas Pasir Pawon, menurut informasi terakhir kini hanya mempunyai satu mata air. Nama kamupung Cinyusuan menunjukkan bahwa dulunya daerah ini selalu tidak kekurangan air, karena banyak mata air.

Puas menikmati keindahan Pasir Pawon dengan Stone Garden-nya, kami pun bermaksud turun menuju Goa Pawon. Namun, kami lihat ada sebuah makam. Kata pak Budi, sebenarnya tidak ada yang dikuburkan di situ. Ceritanya, dulu ada seorang ibu berziarah di Pasir pawon karena dapat ‘wangsit’, dan kebetulan keinginannya terpenuhi, lalu si ibu membangun makam tersebut, entah buat apa…sekedar simbol aja kali. Dan menurut sejarah, puncak bukit tersebut dulunya juga menjadi tempat ziarah atau upacara religi di jaman kerajaan baheula ( Hindu ), sehingga ‘diyakini’ banyak kekuatan supranatural bagi yang bisa merasakannya. Arah ke Goa Pawon sebenarnya bias ditempuh langsung dari Pasir pawon, namun jalannya curam. Berhubung banyak ibu – ibu yang ikut, terpaksa ambil jalan aman, yaitu memutar lewat jalan utama/jalan raya Cianjur, sekarang di sebelah kanan jalan sudah ada papan penunjuk Situs Goa pawon. Masuk ke lokasi lebih kurang 2 km. Kalo mobil kecil ( kijang ) bisa masuk sampai dekat lokasi.

Begitu masuk pintu goa, bau menyengat ‘guano’ – kelelawar menerpa. Namun begitu masuk goa, justru baunya tidak terasa. Goa pawon memang belum banyak dikenal, hanya beberapa peneliti, mahasiswa, atau personal tertentu yang tahu, sehingga sebagian akses masuk ke ruangan – ruangan goa lainnya masih sempit, kadang kita harus menunduk dan merayap. Tapi asyik juga, masuk goa memang memberikan nuansa tersendiri, goa pawon sebenarnya sangat potensial jika dikembangkan menjadi obyek wisata geowisata – ecowisata minat khsusus. Saya pernah masuk goa karst di pulau Nusakambangan, yang jauh lebih besar dan sudah sedikit ditata karena ditujukan untuk beberapa wisatawan atau kunjungan khusus. Goa pawon potensial, karena dari sisi akses ke lokasi relative dekat dari Bandung, dan jalannya enak. Namun saat ini, sejak ditemukannya peninggalan sejarah ‘rangka’ manusia purba – umurnya diperkirakan 5 tau 6 ribu tahun SM, lokasi ini dijadikan situs ‘arkeologi’ purbakala, dibawah pengawasan dan pengelolaan Balai besar kepurbakalaan – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Cobalah bawa keluarga, anak-anak ke tempat ini, untuk mengenal alam dan lingkungan serta mengetahui sejarah Cekungan Bandung. Pokoknya bermanfaat lah, tidak ke mall melulu. Kita bisa makan timbel bersama – sama di bawah kaki lembah Goa Pawon. Jalan – jalan murah meriah dan berguna. Jawa Barat punya banyak obyek ecowisata, khususnya geowisata, mulai dari Ujung Genteng – Sukabumi, hingga Pangandaran dan Green Canyon, Ciamis.

Info tambahan : kalau mau informasi detil dan lengkap tentang Goa Pawon, silahkan baca buku Amanat Goa Pawon dan Geowisata Cekungan Bandung ( saya diberi oleh pak Budi Brahmantyo, thanks so much ) karya Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s