IKUT JAJAL GEOTREK 6

Standar

JAJAL GEOTREK 6

Sabtu,14 Januari 2011. Jalan jalan keluarga kali ini adalah mengikuti kembali Jajal Geotrek yang diadakan oleh Truede. Rute JGT 6 hari itu adalah menyusur JI Dago (Jl.Ir.Juanda) – Taman Hutan Raya ( Tahura ) Juanda, Tangga Seribu PLTA Dago, dan berakhir di Situs penin ggalan Raja Thailand di Curug Dago. Jumlah rombongan JGT kali ini lumayan banyak, maklum karena gratis, bila dihitung ada sekira 30 orang lebih. Seperti JGT sebelumnya, Pak Budi Brahmantyo dan Pak Bakhtiar , dua pakar geologi tetap semangat untuk memimpin rombongan.
Kami berangkat dari terminal Dago, berjalan ke atas menyusur jalan Dago ke arah jalan Bukit Pakar . SD Pakar 2. Perjalanan dilanjutkan ke arah Tahura Juanda, tapi mengambil jalur hiking, yaitu dari jalan bukit Pakar belok ke kiri, menyusur jalan setapak. Jalan mulai mendaki, dan semakin tanjakannya, istriku tampak mulai repot ……. Dengan nafas terengah dan sedikit ditarik memaksa untuk jalan terus, namun akhirnya berhenti juga di tengah jalan, istirahat, sementara anak-anakku termasuk si bungsu Aldin tampak tidak kelelahan sedikitpun, hebat lah. Setelah nafas kembali normal, jalan lagi, ternyata di depan sudah turun dan tidak jauh sudah tampak pelataran parkir Tahura Juanda. Alhamdulillah, seru istriku. Setelah semua tiba, kami masuk ke Tahura Juanda, masuknya pun gratis lho ( terimakasih Pak Budi Susatyo Kepala Balai Tahura Juanda dan Bu Jasmiati ). Disini kami beristirahan sejenak, sambil mendengarkan beberapa penjelasan tentang Sejarah Tahura Juanda. (Tahura Ir.H. Juanda adalah Taman Hutan Raya pertama di Indonesia, diresmikan tanggal 14 januari 1985 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan tanggal kelahiran Ir. H. JUanda. Awalnya dikenal sebagai Kawasan HUtan Lindung Gunung Pulosari dan Tawan Wisata Alam (TWA) Curug Dago. Pengelolaan saat ini oleh Balai Pengelolaan Taman HUtan Raya Provinsi Jawa Barat. Tahura JUanda terletak pada ketinggian 770 – 1330 dpl. Lokasinya di tengah – tengan Bandung, sekitar 5 km dari Gedung Sate dan pusat kota, atau sekitar 1 km dari terminal Dago, sehingga amat sangat mudah dijangkau. Hutan yang masih bagus vegetasinya ini berfungsi sebagai paru – paru Kota Bandung, bersyukurlah masyarakat Bandung mempunyai hutan raya nan indah ini., luasnya kalau tidak salah mencapai 590 ha, sangat luas karena membentang dari Kota Bandung hingga ke arah Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat .

Suasana yang sejuk, asri, full oksigen, membuat rasa letih kami cepat pulih. Rombongan memperoleh kejutan, karena ternyata Wakil Walikota Bandung, Pak Ayi Vivananda, ikut bergabung. Di depan Goa Belanda, Pak Budi memberikan penjelasan lengkap mengenai proses geologi pembentukan kawasan ini., termasuk kaitannya dengan patahan Lembang. Banyak obyek wisata menarik disini, mulai dari panorama alamnya, Goa Jepang, Goa Belanda, hingga tempat bermain, olahraga seperti jogging track, walking track, sepeda track hingga pintu Maribaya, serta Monumen Ir. Juanda, dan Museum Tahura Juanda yang berisi berbagai koleksi herbarium, satwa, batuan dan artefak, koleksi foto dan medali peninggalan Ir. H. Juanda. Sambil menunggu yang lain istirahat, saya, pak Bahtiar, dan Pak Ayi sempat bersilaturahmi dan berbincang – bincang dengan Pak Budi Susatyo (kebetulan lagi ada di kantor Balai Tahura ), sambil menikmati teh panas dan pisang goreng khas Tahura…..nikmat euy. Aldin ngikut wae nih. Si Ibu, Kakak dan Teteh kemana ya ? ternyata lagi menikmati hidangan yang sama di ruang sebelah.

Pak Budi, Pak Wakil Walkot, dan Pak Bahtiar sangat antusias ketika Pak Budi Tahura ( banyak Budi soalnya ) menunjukkan foto batuan aneh dan indah, seperti ada tulisan – tulisannya, yang diketemukan di bawah curug. Saking antusiasnya…..mereka sepakat untuk meneliti langsung ke lokasi penemuan, minggu depan, Siip lah.

Dari Tahura, kami melanjutkan perjalanan ke arah bawah menuju PLTA Dago, melewati tangga seribu. Lokasi ini ternyata sangat menarik untuk menjadi obyek fotografi, jadinya banyak peserta terutama kaum cewek….yang narsis berfoto ria, termasuk anak dan istriku. Turunan tangga dilalui satu per satu sambil bergaya di depan kamera. Turun pun ternyata membuat ripuh ( cape lutut), apalagi istriku, masih untung rutenya turun, bayangkan kalo ambil rutenya dibalik. Ada yang iseng menghitung jumlah tangganya, katanya hanya berjumlah 440 pijakan ( anak tangga ). PLTA Dago milik PLN, terletak tepat di akhir tangga seribu ( jadi tangga seribu ini merupakan jalan inspeksi untuk pipa saluran air dari Tahura menuju unit pembangkit listrik di PLTA Dago ). Anakku Aldin, begitu semangat ingin melihat isi di dalam gedung PLTA. Setelah penjelasan singkat dari Manajer PLTA, kami dipersilahkan melihat-lihat ke dalam. Aldin pengen duluan, so …dengan setengah berlari aku mengikutinya masuk ke dalam gedung pembangkit. Aldin banyak tanya tentang generator besar – besar di depannya, bagaimana bisa menghasilkan listrik ? sebisanya aku terangkan. Setelah puas menghabiskan jamuan tradisional (kacang, singkong, awug ), kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Curug Dago, etape terakhir nih. Jarak yang harus ditempuh relatif dekat sebenarnya, hanya kurang lebih 0,5 km.

Curug ( air terjun ) Dago tampak cukup menawan, dilihat dari atas jembatan yang melintas di atasnya. Tujuan kami sesungguhnya adalah ke dasar Curug Dago, tempat peninggalan ( situs ) raja Thailand berada. Rute ini paling menegangkan buat kami sekeluarga, karena jalannya curam, untuk itu harus ekstra hati hati, meskipun jalannya di dibuat trap atau tangga, tetapi sedikit licin dan beberapa bagian pagar pembatass atau tepatnya untuk pegangan tangan sudah rusak dan hilang. Dengan bersusah payah, tertatih tatih, apalagi harus memapah isitri yang agak ketakutan, saya menyusuri jalan setapak ke dasar curug. Kakak, Teteh, dan Aldin tampaknya tidak bermasalah, malah terkadang saya harus sering memperingatkan agar pelan-pelan dan hati hati. Dari bawah, Curug Dago jauh lebih keren, bunyi gemuruh air dan sedikit cipratan airnya, semakin membuat bersemangat mendekatinya.
Situs raja Thailand, Chulalongkorn II Raja Rama IV) atau nenek moyangnya raja Thailand sekarang ( Raja Bhumipol ) , terletak tepat di pinggir dasar Curug Dago, di tepi aliran sungai Cikapundung, berupa batu prasasti besar bertuliskan huruf kuno ( aksara Thailand ). Situs tersebut disimpan di dalam dua buah bangunan dengan bentuk khas Thailand. JUmlah rombongan yang banyak membuat tempat terasa sangat sempit, bahkan untuk mendengarkan penjelasan sang Juru KUnci menjadi tidak nyaman. Kami pun buru – buru naik ke atas lagi setelah berfoto ria, dan memberikan sumbangan buat Juru Kunci. Perjalanan ke atas, memang lebih mudah dibandingkan saat turun, namun dengan kondisi tanjakan yang amat curam, lagi lagi istriku kerepotan, harus istirahat beberapa kali….ambil nafas. Kakak, Teteh, dan si bungsu ternyata sudah melesat duluan sampai di atas.

Petualangan jajal geotrek berakhir di Curug Dago, setelah berdialog antar peserta, santai, serta mendengarkan keterangan Juru Kunci Situs Thailand ( lupa namanya ) , kamipun saling berpamitan, ‘Sampai Jumpa di Jajal Geotrek berikutnya’. Tapi, urusan ternyata belum selesai, huiii…..untuk mencapai jalan Dago, kami harus melewati jalan menanjak yang cukup panjang, huf…..huf….huf. (Bandung, 40111)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s