BALI with Family ( Episode – 1 )

Standar

Episode 1, bali with my family

30 Juli 2010. Liburan sekolah kali ini anak – anak kompak ingin ke Bali, ingin tahu keindahan dan keelokan Pulau Dewata katanya, sepertinya itulah gambaran mereka tentang Bali yang selalu terlihat di TV. Meski di kantor sedang sibuk, rasanya tak salah memberikan hadiah atas rapot mereka yang bagus. Kebetulan, kami dapat tiket murah Air Asia. Kami berangkat hari Jumat ( izin kerja setengah hari ), berangkat dari Bandara Husein Sastranegara-Bandung jam 15.25 dan tiba di Bandara Ngurah Rai-Denpasar jam 18.10. Kami sudah dijemput oleh temannya Om Revi, setelah kenalan ternyata namanya Pak Made. Karena lapar, kami minta diantar ke pantai Jimbaran, makan malam dulu sebelum ke hotel. Suasana di tepi pantai Jimbaran atau pantai Kedonganan sudah tampak ramai, banyak wisatawan yang ingin menikmati hidangan laut Jimbaran yang terkenal enak, kerlap kerlip lampu dan lilin menerangi suasana gelap malam diantara deburan suara ombak, sesekali cahaya pesawat terbang yang tengah landing di bandara Ngurah Rai turut menambah indahnya pemandangan di sepanjang Pantai Jimbaran. Rumah makan dan café yang berjajar di sepanjang pantai membuat sulit untuk memilih yang terbaik dan terenak, tapi hampir semuanya rata – rata menyajikan masakan yang sama enaknya kok, jadi kami pun tidak terlalu ambil pusing, yang penting bersih dan nyaman tempatnya. Terbukti, anak – anak pun makan dengan lahapnya, ueenakk……… siiip !! katanya, wah… doyan atau kelaparan nih.

Puas makan seafood, kami langsung menuju Tune Hotel. Saya ingin mencoba hotel yang belum lama dibuka Air Asia Grup ini, dan kebetulan dapat harga promo saat booking sebelumnya, lumayan …. Cuma 525 ribu rupiah untuk dua malam dan per kamar, plus AC. Hotelnya bersih, kamarnya bagus, dengan interior minimalis, namun ukurannya yang terlalu kecil termasuk kamar mandinya, buat naruh koper juga susah, memang sepertinya dirancang hanya buat tidur doang kali. Buat kami tak masalah, yang penting tempat tidurnya bagus, nyaman dan ada AC nya. Karena masih belum ngantuk, saya jalan – jalan sebentar di sekitar hotel, sambil mencari minuman dan cemilan. Tune Hotel terletak di jalan Kahyangan Suci Off, di daerah pantai Kuta. Kalau dari jalan pantai Kuta ke arah Hard Rock Hotel, 50 m setelah warung Made atau Wina Holiday Hotel ada jalan ke kiri ( itulah jalan Kahyangan Suci ), tidak jauh kok…hanya 20 meter dari mulut jalan pantai kuta tersebut.

Pagi pertama di Bali, Sabtu 31 Juli, kami jalan – jalan ke pantai Kuta, dari hotel hanya berjarak 200 meter. Anak – anak ( teh Diza, kakak Dila, dan si bungsu Aldin ) berfoto ria di Hard Rock dan sepanjang pantai. Setelah puas bermain pasir dan ombak, kami kembali ke hotel, siap – siap jadi turis. Sopir mobil rental (temannya Om Revi ) telah menunggu, sopirnya bukan Pak Made yang kemarin, ….. ternyata namanya Made juga !! ( Made in Bali is usual ). Setelah tahu bedanya Made yang ini, kami jadi tertawa geli, karena Made yang kemarin malam menjemput, ternyata adalah bos perusahaan rental mobil ( rekanannya Om Revi ), sedangkan yang Made pagi ini adalah asli anak buahnya alias sopirnya. Pak Made bos, hebat juga dan bertanggung jawab, karena kemarin malam katanya….pas mau jemput kami, semua sopir sedang keluar dan belum kembali, so … akhirnya terpaksa dia yang jemput kami. Pantes, semalam aku dan istri heran, nyopir nya kok kurang lihai dan agak kaku, …. rupanya boss.

Tujuan wisdom ( wisatawan domestik ) pagi ini adalah ke Tanjung Benoa, kawasan wisata air di selatan Bali. Kebetulan, ada saudara istri ( Om Asep ) bekerja di salah satu perusahaan wisata air disana. Karena dia adalah koordinator, tadinya kami ditawari gratis main apa saja, hanya tak enaklah….akhirnya minta diskon saja 50%, lumayan ngirit. Kami berliima, mencoba naik banana boat, buat uji coba dulu. Aldin yang aku khawatirkan, malah paling semangat dan berani, justru aku yang was – was dibuatnya. Teteh Dhiza dan Kakak Dhilla masih ingin naik Flying Fish, sementara aku, istri, dan Aldin beristirahat dulu. Rencana mau naik parasailing dengan si bungsu gagal karena anginnya masih lemah, kalau menunggu terlalu lama dan terlalu siang. Kami masih harus melanjutkan perjalanan ke GWK Cultural Park ( Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana ). Makan siang dimana ya ? Aku teringat Bebek Betutu Gilimanuk Jalan Raya Tuban, setiap tugas ke Bali aku pasti mampir, kayaknya nikmat untuk menu makan siang dengan keluarga. Sayang, harus sedikit kecewa karena bebeknya habis, tinggal ayam…….tak apalah, tak kalah nikmatnya, pedas dan segar rasanya, semua suka, siiip…..nambah terus. Puas makan, trus mampir ke Joger . Suasananya sudah penuh sesak, kaos – kaosnya pada berantakan, motif, warna, dan ukurannya sudah acak adut…tidak ditempat yang semestinya. Meski agak bersusah payah, setelah semua dapat barang, langsung bayar, dan melanjutkan perjalanan.

Sebelum menuju GWK, kami sempatkan untuk sholat dulu di Masjid Ibnu Batutah yang terletak di tepi jalan raya Nusa Dua. Kawasan ibadah yang cukup unik, karena disamping masjid ada juga gereja Kristen, Katolik , tempat ibadah umat Hindu dan Budha. Menurut papan info, kawasan ini dibangun oleh Bali Tourist Development Council. Di GWK, kami hanya berjalan – jalan, berkeliling, dan berfoto ria sampai agak sore (jam 4 an ), menikmati bentang alam dan taman buatan yang cukup eksotis tersebut. Perbukitan kapur atau bukit Ungaran / Jimbaran, yang terletak di Tanjung Nusa Dua, telah disulap menjadi area wisata yang indah. Berada pada ketinggian 263 dpl, memungkinkan kita untuk memandang Nusa Dua, Kuta, dan Sanur. Patung GWK atau Dewa Wisnu, karya pemahat top I Nyoman Nuarta, dengan tinggi sekira 140 meter menjadi ikon kawasan tersebut.

Dari GWK, kami langsung ke Pura Uluwatu, sekalian mau melihat matahari terbenam ( sunset ), pemandangan alam yang wajib dilihat kalau ke Uluwatu. Sampai di Uluwatu, tempat sudah begitu ramai, untung kami masih dapat tempat yang cukup strategis untuk melihat sunset. Di ujung pura, suguhan tari kecak masih berlangsung. Selama menunggu, anak – anak juga disuguhi tingkah laku monyet – monyet Uluwatu yang nakal. Ada tiga ibu – ibu yang diambil kacamatanya, dua dapat dikembalikan berkat bantuan pawang, tapi yang satu belum dapat, karena sang monyet telah lompat ke pepohonan di bibir jurang. Canggih juga tuh monyet, secepat kilat datang dan mengambil barang milik pengunjung. Untung kami sudah mengamankan segala barang yang menempel, sesuai peringatan petugas yang ada. Pura Uluwatu dengan latar matahari terbenam tampak begitu mempesona.

Jam 7.30 malam, kami tiba di hotel, mandi terus keluar makan malam di KFC, janjian ketemu Om Asep dan keluarga yang tinggal di Bali. Selesai makan dilanjutkan jalan – jalan menikmati suasana dan keramaian Pantai Kuta di waktu malam.

Esok pagi setelah check out, Minggu 1 Agustus, agendanya adalah ke arah utara, Pasar Sukawati, Batubulan, dan Ubud. Maksud hati mau mencari souvenir atau oleh – oleh Bali, khususnya kaos barong, tapi suasana pasar Sukowati menjadi tidak nyaman, kebetulan ada upacara adat sehingga jalan macet dan harus memutar, disamping itu nawarin harganya keterlaluan, males jadinya…….nanti aja di Erlangga belanjanya. Di Batu bulan dan Ubud pun, kami hanya melihat – lihat, anak – anak pun sepertinya kurang antusias, akhirnya secepatnya kami kembali ke Denpasar. Istriku ingin ke toko emas, mencari cincin khas Bali. Si Aldin mulai lapar, wah dimana ya tempat makan yang enak di Denpasar ? Dipandu pak Made sopir, kami menyusuri jalan menuju jalan Hasanudin (pusatnya toko emas ) ber buru rumah makan yang cocok. Pas di jalan ………. kok ada rumah makan menawarkan diskon ( sepertinya baru buka ) dan kelihatannya bersih. Rumah Makan Daun Bawang, menyajikan menu Jawa Timur ( model penyet – penyetan gitu ) dan menu Indonesia lainnya. Pilihan kami ternyata tidak salah, masakannya enak, bumbunya meresap sampai dalam, penyajiannya mantap dan unik, dalam gentong kecil yang dipanaskan ( fuu… masih panas dan fresh), dan harganya termasuk murah, belum diskon promonya. Wah mantap, kakak, teteh, dan Aldin pada nambah euy. Jalan Hasanudin ternyata dekat, sepanjang jalan berderet toko – toko emas. Kami sholat dulu, kebetulan di situ ada masjid ( kalau tidak salah Masjid An Nur, agak lupa soalnya). Setelah menyusur 5 toko, si ibu bahagia akhirnya nemu juga cincin yang diinginkannya.

Sambil menunggu chek in di bandara, kami ke Erlangga, supermarket oleh –oleh khas Bali. Semua ada disini, makanan , selimut , termasuk kaos barong yang dicari. Terlalu singkat memang 3 hari 2 malam di Bali, banyak obyek wisata yang belum dilongok ( ditengok ), dan anak – anak pun rupanya ingin ke Bali lagi, karena belum lihat Tanah Lot, Taman Safari, Bedugul, dan lainnya. Haturnuhun kanggo pak Made ( rental Avanza plus sopir nya murah, only 250 ribu per hari ). ‘Kalau ke Bali kontak lagi ya ! ‘ kata Pak Made. Siiiaapp. Next to Episode – 2 kalau rapotnya bagus, Insya Allah.

Next : Bali with Family 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s