BALI with FAMILY : 2

Standar

Jalan Jalan ke Bali ( jilid 2 )
Keinginan untuk berlibur kembali ke Bali akhirnya terwujud. Kebetulan kami dapat tiket promo dari Citilink, 500 ribu- an pp. Hari Kamis, 31 Januari 2013, kami sekeluarga (tanpa istri, berhubung my wife dan rombongan kantornya sudah dari Rabu ke Bali ) take off dari Bandar Husein Sastranegara, jam 12.30, dengan pesawat Citilink Airbus A320-200 ( QG 901 ). Tiba di Bandara Ngurah Rai, pukul 15.30 WITA. Kali ini kami dijemput Pak Gusti, sopir rental mobil yang kami sewa. Sebelum ke hotel, tak lupa untuk dilewatkan adalah menginjungi Bebek Betutu Gilimanuk, di daerah Tuban, dekat bandara, salah satu menu favorit kami.
Tempat menginap yang kami booking via internet ( booking.com ), ternyata di luar persangkaan kami. Hotel Saimai Residence, ternyata berada di lantai 2, di atas pertokoan Kuta Center. Begitu melihat, ada sedikit rasa kecewa, karena foto di internet tampak seperti bukan di bangunan bertingkat. Lokasinya pun agak kurang sreg, karena pertokoan Kuta Center terlihat sepi, sedikit menjorok ke dalam ( 50 meter dari Jalan Kartika Plaza, atau sebelah Waterboom Bali). Namun, setelah ke atas, ternyata Hotel ini lumayan juga, bersih, kamarnya luas, dengan nuansa minimalis. Lokasi hotel, dekat dengan Discovery Mall dan Waterboom Bali. Jalan kaki ke tempat rombongan kantor istri menginap di jalan pantai Kuta juga cukup dekat. Rencana kami di Bali adalah 4 hari 3 malam, sampai dengan hari Minggu. Setelah berisitirahat, sholat, kami coba survei jalan malam sepanjang jalan Kartika Plaza menuju area Kuta square, menikmati keramaian Kuta sambil mencari makan malam.

Jumat, 1 Februari 2013
Jam 8.30, Pak Gusti sudah sampai di Hotel. Al susah dibangunin, kecapaian dan enak tidur kayanya. Setelah sarapan pagi, nasi goreng dan pancake ( nasi goreng nya ternyata enaak lho), kami langsung meluncur ke Bali Safari dan Marine Park ( 1 jam dari Kuta ). Istri nelpon, katanya sedang di Mangrove Information Center (MIC), di jalan By Pass, kebetulan searah jadi kami putuskan mampir dulu ke sana, DSC03547sekalian memperkenalkan mangrove ke anak – anak. Pengelolaan mangrove di Bali amat bagus, seharusnya daerah daerah lain bisa meniru Bali menjaga kawasan hutan mangrove untuk melindungi kawasan pesisirnya. Sayang track mangrove nya sedang diperbaiki dan ditutup sementara untuk umum, sehingga anak – anak tidak bisa jalan kaki ke area hutan mangrove lebih dalam. Tapi lumayan, anak – anak jadi tahu dan melihat sendiri apa dan seperti apa mangrove ( bakau ).
Mendekati Bali Safari, cuaca berubah ubah, kadang hujan, kadang tidak. Untunglah pas sampai lokasi hujan pun reda. Bali Safari & Marine Park, merupakan kawasan konservasi satwa liar, pendidikan lingkungan dan budaya, seperti Taman Safari di Cisarua Bogor. terletak di daerah Gianyar, tepatnya di Jl. Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km. 19,8 desa Lebih, desa Serongga dan Desa Medahan, Gianyar 80551,Bali. Telp. +6361950000 (Hunting), Fax. +62361950555, info@tamansafari.net, http://www.balisafarimarinepark.com.

Tiket masuk untuk Bali Safari khusus domestik adalah 135 ribu. DSC03591Kebetulan untuk Februari 2013, sedang ada program paket promo + teater Bali Agung Rp.180.000. Lumayan, soalnya kalau buat nonton teater Bali Agung sendiri bisa 200 ribu per orang.. Taman Safari Bali (Bali Safari and Marine Park) adalah lokasi wisata yang berisi aneka satwa dari berbagai penjuru Dunia yang habitatnya di buat semirip mungkin dengan aslinya. Jam buka 9.00 sampai 17.00. Kawasan ini dibangun diatas lahan seluas 40 hektar. Terdiri dari 80 spesies dan 400 ekor satwa yang berasal dari tiga wilayah, yaitu Indonesia, India, dan Afrika. yang dapat kita lihat langsung via Safari Journey, naik mobil khusus yang telah disiapkan. Berlibur ke kawasan ini memang harus seharian ( full day ), karena di setiap zona juga disiapkan beberapa pertunjukan khusus pada waktu waktu tertentu, antara lain :

• Animal Education show di Hannuman Stage adalah Taman Hanuman dengan sebuah panggung yang terdapat pertunjukan satwa yang juga memberikan pengetahuan tentang satwa langka. tiap jam 11.00
• Elephant Conservation & Education Show di Kampung Gajah. Ini merupakan area dengan museum gajah, kandang gajah, tunggang gajah, souvenir, dan, warung gajah, serta pertunjukan teater Gajah,saat itu menampilkan cerita konflik ilegal logging dengan gajah dan penduduk sekitar. Tiap jam 11.45
• Elephant Bathing di Ganesha. Taman Ganesha ini memiliki sebuah patung Ganesha setinggi 9 m yang merupakan pintu masuk menuju Bali Theater. Di sini juga dapat dilihat replika relief yang berada di Gunung Kawi. Di Taman Ganesha kamu bisa berinteraksi secara dekat dengan gajah-gajah yang sedang mandi. Tiap jam 11.30
• Balinese Holy Water Procession di Tirta Sulasih. Tirta Sulasih adalah tempat pemandian suci dengan nuansa kebudayaan Bali. Kamu dapat menyaksikan kegiatan sehari-hari masyarakat Bali dengan budayanya. Selain itu kamu juga dapat membeli berbagai Kerajinan seni maupun souvenir.
• Balinese Bamboo Music di Terminal Bali.
• Balinese Dancing Class di Bale Banjar.
• Tigers of Ranthambore merupakan tiruan dari benteng kuno yang berada di India. Benteng ini menjadi tempat berdiamnya harimau putih yang sangat langka.

DSC03657Disamping itu, Taman Safari Bali dilengkapi dengan beberapa fasilitas antara lain, Kawasan Fun Zone yang disediakan khusus untuk anak-anak berusia maksimal 10 tahun, didalamnya ada kolam renang, seluncuran, dan tempat main anak. Terdapat berbagai permainan dengan tarif Rp. 10.000 untuk setiap permainannya seperti, Mery Go Round, Clumbing Car dan Go Go Bouncer. Di sini juga terdapat kuda poni maupun onta tunggangan dengan tarif Rp. 20.000 per orang sedangkan untuk berkeliling dengan menunggang gajah selama 30 menit dikenai tarif Rp100 ribu. Untuk dapat bisa berfoto dengan beberapa binatang dikenai tarif Rp20.000.

Selesai menikmati kawasan konservasi dan aneka satwanya, kami mampir ke Uma restoran untuk mengisi perut, sambil menunggu pertunjukan Bali Agung, jam 14.30. Bali Agung teater hanya menampilkan pertunjukan tiap Jumat, Sabtu, Minggu, jam 14.30 hingga jam 16.00. Tiba – tiba hujan deras, terpaksa kami harus menembus hujan untuk mencapai teater Bali Agung. Celana yang basah, tidak kami rasakan begitu menikmati pertunjukan Bali Agung yang begitu megah, menawan, dan keren. Dengan setting cerita legenda Bali, plus teknik pencahayan, kostum, dan alur cerita yang mudah difahami membuat pertunjukan teater Bali Agung pantas dan enak untuk dinikmati semua kalangan dan usia. Rugi lah pokoknya, kalau ke Bali Safari tidak nonton Bali Agung. Anak anak pun dan penonton lainnya ( kebanyakan wisatawan asing ) tampak puas. Mantaap lah, tidak kalah oleh Cabaret Show ( Banci Show ) yang di Pattaya. Kami di drop di Discovery Mall oleh pak Gusti, rencana mau menikmati sunset di belakang mall tersebut. Suasana di tepi pantai sudah cukup ramai, tujuannya sama melihat sunset. Boleh juga ini tempat, cukup strategis, nyaman, dan enak buat nongkrong menanti sunset.
Malam ini, setelah makan malam , kami naik taksi ke Beach Walk, IMG_1321sekalian nunggu istri bergabung. Putar putar area Beach Walk dan berfoto ria. Nongkrong di the Nannys Pavilon, sambil nunggu kedatangan ibunya anak anak. Jam 22.00, si ibu baru datang, kasihan sopir yang nganter baru, tidak hapal Beach Walk, jadinya bablas sedikit,. Untung Teteh dan Al jemput di depan.

Sabtu, 2 Februari 2013
Jam 10.00 kami baru start menuju Tanah Lot, maklum masih betah menikmati pulau kasur. Tujuan awal langsung ke Tanah Lot, karena anak anak belum pernah kesana. Sampai di lokasi ( 1 jam perjalanan ) cuaca memang mulai panas, pengunjung pun sudah cukup banyak. Sayang air laut sedang pasang, sehingga kami tidak dapat menyeberang ke pulau Pura Tanah Lot. Cukuplah berfoto ria, menikmati pemandangan indah Tanah Lot. Tadinya Tanah Lot adalah tujuan akhir, karena ingin lihat IMG_1175sunset, namun karena anak anak ingin ke Beach Walk, maka agar tidak terlalu malam, rute pun di ubah. Puas di Tanah Lot, rute selanjutnya adalah Alas Kedaton, monkey forest, di daerahTabanan, lokasi wana wisata plus pura, yang cukup teduh dikelilingi pohon pohon besar nan rindang. Monyet monyet bebas berkeliaran di sini. Jumlahnya lumayan banyak, namun ternyata monyetnya baik baik, tidak galak, tidak suka ambil makanan, dan tidak suka mencuri seperti monyet di Uluwatu. Kondisi obyek wisata ini memang sepi, hanya ada beberapa pengunjung. Disekeliling terdapat kios kios cenderamata, tetapi hanya sebagian yang buka. Ada guide ( ibu ibu ) yang akan amengantar kita berkeliling tempat wisata yang relatif kecil ini. Di akhir perjalanan, kalau mau kita bisa berfoto dengan kelelawar (kalong) tapi bayar, 20 ribu sampai 60 ribu. Ini yang lucu, ternyata si guide disini merangkap penjaga atau yang punya kios, jadi setelah beres berkeliling kami diajak mampir ke kios nya dia buat beli oleh oleh atau cendera mata ( harganya selangit, 3 x lipat di Kuta ). Kami tidak beli, kasihan si ibu agak kecewa tampaknya, meski sudah diberi tip.
IMG_1249Perjalanan berikutnya menuju Bedugul ( jam sudah menunjukkan pukul 13.30). Di tengah jalan hujan lebat, perut mulai lapar, buat ganjal kami makan kue dan perbekalan yang ada, karena mau turun mampir ke Joger Bedugul, atau Kebun Raya Bedugul tidak mungkin. Kami meneruskan perjalanan ke Pura Uludanu, Danau Beratan, berharap sampai sana hujan berhenti. Syukurlah, tiba di Danau Beratan hujan reda, sedikit gerimis. Saya, Teteh, dan Al turun, sementara kakak dan ibu di mobil….takut hujan. Tiket masuk ke obyek wisata di daerah ini seragam ternyata ( Tanah Lot, Alas kedaton, dan danau Beratan ), yakni 10 ribu per orang dewasa dan 7500 per anak. Panorama di Danau Beratan dengan pura Uludanu di tengah danaunya memang menawan, cocok buat berfoto mania. Gerimis yang mulai bertambah, membuat kami tidak berlama lama disini. Kami memutuskan makan di Denpasar saja, ke Daun Bawang Resto, di daerah Jalan Niti Mandala, Renon, Denpasar, depan kantor pos.

Harapan menikmati masakan resto Daun Bawang yang uenak pun pupus, ternyata restoran ini sudah tutup. Sayang ya, padahal masakannya lezat dan relatif murah. Kami pun mencoba berburu tempat makan, akhirnya dapat di Ulam Sari Alam, resto ikan, Restoran ini baru buka sebulan, lokasinya di jalan Merdeka VI, Renon, Denpasar. Target kami ternyata tidak salah, hidangan ikannya termasuk lezat, si Al bahkan sampai nambah beberapa kali. Puas dan kenyang, membuat kami tertidur di mobil, tahu tahu dah di Kuta. Pak Gusti mengantar kami ke Surfer Girl ( Kakak mau beli sesuatu katanya) trus drop ke Beach Walk ( KK dan teteh ada yang mau beli beli ). Perjalanan akhir malam ini ( pukul 9.00 ) adalah pulang sambil menyusur Jalan Pantai Kuta dan Kartika Plaza. Biar kuat jalan, isi bensin dulu di Burger King, Kuta Square.

Minggu, 3 Februari 2013
Sebelum ke Bandara, biasa urusan oleh oleh jadi target. Telepon ke Pie Susu Enak , di Jalan Nangka, Denpasar, ternyata masih ada 10 bungkus ( ada yang pesen tidak diambil ), trus ke Krisna pusat oleh oleh, dan terakhir maksi di Bebek dan Ayam Betutu Pak Man. Menunya memang tidak terlalu pedas, tapi bumbu kuahnya, kalau kami lebih suka Betutu Gilimanuk, lebih terasa, meresap, dan mantap. Berita tidak menyenangkan datang, penerbangan Citilink delay 2 jam. Kasihan pak Gusti kalau nunggu, kami pun sepakat menunggu di Bandara saja. Di bandara ketemu rombongan kantorku, dan kantor si ibu, jadi rame. Jam 17.30, jadwal terbang baru, belum ada tanda tanda dan pengumumam dari Citilink untuk berangkat. Penumpang sudah mulai ribut. Untung kemudian kami dibagi bungkusan snack untuk menunggu. Jam 17.00, penumpang pun akhirnya dipersilahkan masuk pesawat. Tanda tanda kejadian tidak mengenakkan sebenarnya sudah terasa sejak pesawat take off, beberapa guncangan terjadi, dan paramugari tampak sibuk. Benar saja, akhirnya keluar pengumuman, karena hal teknis, pesawat harus mendarat di Surabaya. Pengalamanku pertama naik Citilink teryata menjadi pengalaman pertama mendarat darurat. Para penumpang QG892 diturunkan di Bandara Juanda Surabaya ( pukul 19.00 wib ), dan diminta masuk ruang tunggu, untuk menunggu perbaikan kerusakan. Sayangnya, setelah sekian lama menunggu, hampir se jam, tidak ada satupun kru maupun petugas Citilink yang menyampaikan info resmi, terjadi kerusakan apa dan berapa lama harus menunggu, padahal waktunya makan malam. Banyak bayi dan balita, dan orang tua yang ikut dalam penerbangan ini. Beberapa penumpang sudah mulai tidak sabar, mulai protes, dan sebagian keluar mencari manajer Citilink, atau petugas Bandara. Respon baru ada setelah berbagai pihak dikontak dana diomelin oleh penumpang. Para penumpang akan diangkut dengan Citilink yang dari Lombok, jam 21.30, dan untuk makan dipersilahkan di Café Surabaya. Info seperti inilah yang seharusnya sejak awak disampaikan, toh penumpang pun sebenarnya maklum dan mengutamakan keselamatan, yang penting ada info dan kepastian dari maskapai. Rasanya pengamalaman pertama seperti ini, menjadi hikmah bagi kami sekeluarga, bahwa ada kalanya kita harus siap menghadapi hal – hal yang tidak kita inginkan, tidak selamanya semua berjalan mulus dan lancar selalu. Berdoa adalah upaya yang utama, karena semua ini telah menjadi ketentuan Allah. Alhamdulillah, kami selamat tiba di Bandung, jam 23.00, dan bertemu kasur di rumah jam 24.00. (med2013)

Look :  Bali with my fam 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s