AKHIR PEKAN DI PEKANBARU

Standar

Jumat, 24  Januari 2014

IMG_1103Main ke Pekanbaru sebenarnya buah iseng, karena pas  hunting tiket pesawat ke Singapore beberapa bulan ke belakang, kebetulan Air Asia buka rute baru  Bandung  Pekanbaru, dengan harga promosi 200 ribu pergi pulang.  Apa salahnya mencoba rute baru, akhirnya jadilah kami ber lima sekeluarga berangkat ke Pekanbaru.  Persoalan muncul, kata teman di Pekanbaru  wisata nya biasa biasa saja,  bahkan kami ( keluarga teman ) suka main ke Bukittingi untuk pesiar.  Kami pun sepakat, untuk menjajal  rute Pekanbaru – Bukittinggi.  Pesawat take off dari bandara Husein Sastranegara  jam 5.40 , tiba di bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, jam 7.30 ( waktu setempat),  perhitungan saya waktu tempuh sekira 1,5 jam  ( dari jam tangan ).  Mobil innova  yang kami sewa dan sopirnya  baru tiba pula di bandara. Berhubung lapar, kami langsung mencari sarapan,  menu soto kami pilih, karena kita penggemar soto, dan selalu ingin mencicipi soto khas di tiap daerah.  Dapat info, ada soto enak dekat bandara, yakni Soto Bude ‘Kirman’, di simpang tiga, Jl KH Nasution 10.  Soto nya memang enak,  model soto padang tapi juga mirip soto banyumas. Sudah kenyang, pas jam 8.30, kami langsung menuju Bukittinggi, kata pak Eri, sopir kami, lama perjalanan  kurang lebih 5 jam, berhubung hari jumat, jalan biasanya lowong. Ini perjalanan darat kami yang pertama kali di wilayah Sumatera,  benar saja, jalan sepi hanya berpapasan dengan beberapa kendaraan, pemandangan kanan kiri  masih banyak lahan kosong, kecuali di wilayah Pekanbaru yang sudah berkembang pesat, kanan kiri jalan raya sudah mulai penuh bangunan pertokoan dan beberapa perumahan. Lepas kota Pekanbaru, apalagi memasuki perbatasan Riau dan Sumatera Barat, pemandangan adalah gunung, lembah, pepohonan nan hijau.  Jalan yang  tadinya lurus hampir jarang belokan, memasuki perbatasan mulai berkelok, dan menanjak.  Sebenarnya ada beberapa obyek wisata yang bisa  dikunjungi sepanjang rute Pekanbaru Bukittinggi, yaitu Candi Muara Takus, Kelok Sembilan, Lembah Harau, Kantor Bupati Payakumbuh,  namun karena terbatas waktu, kami hanya sekedar lewat saja.  Di wilayah Sumbar arah Bukittinggi,  kami melihat  kawasan hutannya masih terjaga dengan baik, panorama indah pegunungan Bukit Barisan tampak ijo royo royo.  Namun sayang, pas lihat Tugu Perbatasan, kok burem.  Tugu yang secara desain dan motif hiasan bagus, terlihat tampak kusam  tampilan dan warnanya, sepertinya  kurang terawat, padahal  biasanya warna dan hiasan  khas Sumatera  ( Padang, Riau ) begitu kontras, terang, dan penuh warna. Kami sempat tertidur, untung sudah pesan ke pak Eri, kalau sampai di Kelok Sembilan tolong dibangunkan.  Kami berhenti sebentar di Kelok Sembilan, berfoto ria dengan latar belakang Jembatan Kelok Sembilan yang baru dan tampak IMG_1116megah.  Kata Pak Eri untuk melihat dan melintas jalan lama kelok Sembilan ( yang terkenal kelok kelok nya ) baru bisa saat  nanti pulang , karena dengan dibangunnya jembatan yang baru (untuk mengatasi kemacetan, sempitnya jalan, dan keselamatan  pengendara ) maka  perjalanan berkelok disulap  menjadi seolah olah biasa saja, tanpa belokan dan  tanjakan atau turunan tajam.  Jam 14.00, kami mampir di rumah makan Pondok Baselo, Jalan Raya Bukittinggi, maklum  perut sudah nagih minta diisi. Anak anak sampai terbelalak melihat hidangan masakan  kapau yang disuguhkan di meja, mak…..banyak sekali jenisnya, banyak yang  belum kami temui di rumah makan padang di Bandung.  Ternyata dendeng bakar cabai hijau dan gulai ayamnya sungguh mak nyos,  rasanya begitu mantap, lebih nendang bila dibandingkan masakan padang di Bandung.  Ini baru makan kapau yang bener.  Setelah sholat, perjalanan pun berlanjut, kota Bukittinngi sudah dekat  sekitar setengah jam lagi kata Pak Eri.

IMG_1157Sebelum ke hotel, kami jalan jalan dulu ke Panorama, lihat view Ngarai Sianok dan goa Jepang. Tiket masuk ke area ini cukup murah , hanya 5000 rupiah, yang buat kaget adalah tarif parkir mobil nya,  10.000 rupiah, bahkan kalau weekend bisa 15.000 rupiah. Kata pak Eri kalau hari libur  susah cari parkir dan jalan ke area wisata sangat macet. Kami hanya jalan berkeliling sebentar, buat kami yang biasa jalan ke gunung, pemandangan disini tidak jauh beda dengan di Jawa Barat, bahkan di Bandung,  suasananya mirip Taman Hutan Raya Juanda Bandung, ada goa Jepang nya juga, tapi disini goanya lebih besar, panjang dan banyak cabangnya. Dengan mobil, kami turun menyusur ke bagian bawah Ngarai Sianok.  Setelah itu baru menuju Jam Gadang IMG_1175IMG_1217dan Pasar Atas, lokasi yang memang  sengaja  hendak kita tuju. Suasana sore di  Jam Gadang begitu ramai, banyak pengunjungnya, kami hanya berfoto foto di jam gadang dan  rumah monument Bung Hatta, maklum ternyata cuacanya masih panas.  Satu hal yang tidak membuat kami betah berlama lama, yaitu keberadaan badut badut (  rata rata anak anak yang memakai baju tokoh tokoh kartun Disney ) yang cukup menggangu. Setiap kali kami berdiri dan berfoto  foto, selalu berusaha ikut nimbrung, dan akhirnya yang tidak enak, selalu minta tip, atau sumbangan.  Anak anak, ingin istirahat, tidak mau ikut ke Pasar Atas. Jadi hanya  ibunya dan Pak Eri yang ke Pasar Atas, saya  menemani anak anak makan di CFC,  dalam  mall Ramayana sebelah Jam Gadang,  sambil menunggu ibunya belanja. Menurut info,  Ada Pasar Atas ( banyak menjual kain dan baju ), pasar lereng ( khusus jualan makanan, oleh oleh ) dan pasar bawah ( khusus jualan sayuran, bumbu ), semuanya terletak di area dekat jam Gadang ( jam yang menjadi ikon kota Bukittinggi, dan pusat keramaian kota )

Kami menginap di Hotel Grand Kartini, hotelnya baru, lumayan murah, per kamarnya 350 ribu semalam,  yang jelas bersih dan lokasinya dekat  dari jam gadang, tepatnya di jalan Teuku Umar no. 5 ( telpnya. 075233337, 0752233338), pas sebelah masjid Nurul Haq,  sekitar 30 meter dari Kampung China, kawasan jalan  yang menjadi salah satu pusat kuliner malam di Bukittinggi.  Hotel di Bukitiinggi rata rata tidak pakai AC, maklum udaranya  memang relatif cukup dingin. Dan saat di kamar memang cukup dingin, meskipun bagi kami yang biasa di Bandung, rasanya masih kurang dingin. Di sekitar hotel, atau sepanjang jalan hotel tempat kami tinggal ternyata banyak juga hotel, mulai dari yang budget hotel (hello guest house ) , kartini lama, ananda, asean, orchid, hingga Grand Rocky yang terbesar.  Menjelang  magrib, saya coba jalan jalan dengan Aldin,  ke Jl. Ahmad Yani ( kampung China ) , mau beli makanan, ternyata   warung warung/tenda  makanan  di sepanjang jalan tersebut  baru bersiap siap buka.  Kebetulan lewat toko Singgalang ( jual  oleh oleh, katanya kripik singkong balado nya enak ), beli kripik balado  dua  bungkus, uji coba rasa dan harga.IMG_1196

Bada sholat magrib, siap siap berpetualang malam, rencananya kuliner malam. Pak Eri ngajak keliling kota Bukittinggi, sambil cari oleh oleh, sebelum  menuju sate padang ( sate bukittinggi  kali ). Tak terasa berkeliling cukup lama,  pusat keramaian ternyata memang hanya sekitar jam gadang, selebihnya  relatif lengang. Kami  beli oleh oleh di Pusat Oleh Oleh  Hj. Umi Aufa Hakim, di jalan Soekarno Hatta, dan berhubung rumah makan sate padang yang dicari tidak ketemu ( Pak Eri lupa, atau tutup kali ), akhirnya diputuskan cari makan di Kampung China saja. Masuk kawasan jalan Ahmad Yani malam hari, suasana berbeda saat sore tadi.  Sepanjang jalan penuh dengan tenda dan warung  kuliner.  Banyak pengunjung, berlalu lalang, dan menikmati malam dan makan di kawasan ini.  Kami makan di warung sate padang danguang danguang, seporsi nya murah 14.000 rupiah ( kata Aldin satenya enak, dagingnya tebal ), plus es tebak ( semacam es campur ), eh …. masih belum kenyang, pulangnya mampir ke martabak mesir.  Alhasil, pada kekenyangan,  campur letih,  jalan terasa berat, untung hotel dekat, cuma 40 meter, begitu tiba di hotel langsung  tidur. Istirahat, besok pagi harus pulang ke Pekanbaru lagi.

IMG_1205Jam 7.40 kami siap berangkat ke Pekanbaru. Sebelumnya sarapan pagi ala Grand Kartini hotel, yaitu  ketupat sayur, bubur, dan pisang goreng IMG_1227keju, dan beberapa makanan ringan khas padang ( tidak tahu namanya ), sarapannya nikmat juga.  Sepanjang jalan, rasanya kami lebih banyak tidur, apalagi pak Eri bilang  biar tidak capai tidur aja, nanti pas lewat jalan kelok Sembilan lama dibangunkan.  Jalan kelok Sembilan memang sempit, dengan belokan  cukup tajam di beberapa tempat, tanjakan atau turunan yang  lumayan,  tak heran bila   kemudian harus dibuat  jalan yang baru yang lebih nyaman. Kami tiba kembali di kota Pekanbaru jam 13.30. Kejadian kurang nyaman terjadi tiba tiba, ban mobil  bocor, tertusuk benda tajam, kami terpaksa istirahat sejenak nunggu Pak Eri ganti ban. Oh ya, sempat mampir ngeborong nanas, pas mau masuk wilayah Pekanbaru, katanya nanasnya enak ( lumayan manis pas dicoba ). Tiba di kota, langsung ke rumah makan Pondok Gurih di jalan Jendral Sudirman, maklum  anak anak sudah kelaparan.  Rumah makan ini terkenal di Pekanbaru, menyediakan masakan khas Pekanbaru, seperti  ikan patin, ikan baung, dan sebagainya.  Ikan patin, ikan baung, gurame, dan udang kami  pesan.  Hmmm, enak , lidah cocok karena sama dengan masakan padang. Anak anak pun kelihatannya menikmati.  Perjalanan berlanjut ke pasar bawah, tempat belanja murah meriah yang terkenal di Pekanbaru, segala barang katanya ada, terutama  makanan atau barang barang dari Malaysia dan Singapore.  Pasarnya tidak terlalu besar sebetulnya (jauh lebih besar Pasar Baru di Bandung ).  Sepertinya pengunjungnya banyak  dari pelancong luar kota. Harga makanan  import dan oleh oleh tradisional memang lebih murah disini. Yang tidak kuat hanya panasnya barangkali, apalagi cuaca Pekanbaru yang panas.  Dari pasar bawah, kami ke masjid An Nur, ingin sholat ashar disitu, sekalian melihat  salah satu masjid terbesar dan terkenal di Pekanbaru.

IMG_1255Sebelum ke hotel, kami mampir dulu  ke toko batik Riau, dekat mall pekanbaru,  toko oleh oleh Mega Rasa, beli bolu kemojo, lempok durian, dan beberapa makanan khas Riau lainnya,  dan  ke rumah teman istri, kebetulan rumahnya terlewati. Sulton, istri, dan anaknya juga kebetulan lagi di rumah,  Alhamdulillah bisa  silaturahmi.   Atas saran beberapa teman, kami menginap di Tune Hotel ( Jalan Teuku Zainal Abidin ), selain harganya relatif  murah, lokasinya strategis  ke pusat keramaian dan belanja, mall Pekanbaru, dan yang penting  bersih dan nyaman.IMG_1277

Jam 7 malam, rencananya kami mau jalan jalan ke mall sambil cari makan malam. Namun ternyata ada teman kuliah istri  yang mengajak makan malam, jadilah kami  diajak keluarga Pak Yus ( asli Pekanbaru, tapi kuliah di Bandung ) makan malam di  Pondok Patin  H.M Yunus, yang terkenal dengan masakan ikan patin nya.  Memang, ikan patinnya lebih mantap  dari yang tadi siang di Pondok Gurih.  Beres makan, kami diajak  keliling kota Pekanbaru, memperkenalkan  kotanya, kondisi dan kemajuan Pekanbaru,  dan sudut sudut kota di malam hari. Tak terasa jam 10 lebih, trims pak Yus dan keluarga. Kami di antar kembali ke hotel untuk istirahat.  Eh, anak – anak masih ingin nongkrong di café hotel , ngopi dan ngemil.  Good IMG_1301night . Besok  jam 6.30  pagi harus check out, dan kembali ke Bandung. Jarak Pekanbaru dan Bandung  semakin terasa sangat dekat, dan melihat perkembangan kota Pekanbaru yang begitu pesat,  rasanya ke depan  kalau kesana lagi mungkin  sudah mirip kota Bandung atau Surabaya.  Pekanbaru, see you again. Insya Allah.    medjan14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s